JAKARTA- Perseteruan Baret Merah dan Baret Ungu yang dipicu saling ejek pernah menggegerkan masyarakat Indonesia di masa lalu. Kejadian yang heboh pada tahun 1964 tersebut bahkan masih terus dibahas hingga saat ini.

Kisah Jenderal Benny Moerdani Sakit Hati Sampai Banting Baret Merah
Namun dari kisah kelam tersebut justru muncul nama Benny Moerdani, seorang Jenderal TNI yang dikenang karena keberaniannya melerai kedua belah pihak dan sempat membuat geger masyarakat karena hanya berkaos oblong dan bercelana pendek.
Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (28/11/2023), perseteruan Baret Merah dan Baret Ungu dikisahkan dalam buku yang ditulis oleh Julius Pour berjudul “Benny: Tragedi Seorang Loyalis”.
Diceritakan bahwa pertikaian tersebut terjadi di Lapangan Banteng, Jakarta dan melibatkan dua pasukan elite TNI. Mereka adalah Baret Merah atau RPKAD (sekarang Kopassus) dan Baret Ungu atau KKO (sekarang Marinir).
Usut punya usut, konflik antar TNI ini terjadi hanya karena masalah sepele, yakni saling ejek saat sedang sama-sama latihan di Lapangan Banteng. Entah siapa yang memulai lebih dulu, namun saat itu RPKAD tengah latihan mengemudi mobil sedangkan KO latihan baris berbaris.
Bentrok pun tidak terhindarkan yang membuat masyarakat setempat ketakutan karena keadaan menjadi mencekam. Bagaimana tidak, kedua pasukan elit tersebut dikabarkan saling baku hantam, bahkan sudah mempersiapkan senjata masing-masing.
Unit RPKAD yang kala itu dikabarkan kekurangan pasukan pun akhirnya menghubungi rekan lainnya di Cijantung untuk meminta bantuan. Alhasil, RPKAD dari Cijantung pun datang ke lokasi sambil melakukan konvoi truk.
Beruntung, saat itu Komandan Batalyon I RPKAD Mayor Benny Moerdani yang baru pulang bermain tenis di Senayan sempat melihat iring-iringan truk RPKAD dan merasa ada yang tidak beres.
Ia pun dikabari salah satu petugas piket markas mengenai konflik tersebut. Akhirnya, Benny yang saat itu masih mengenakan kaos oblong dan celana pendek bergerak mengejar konvoi truk yang penuh dengan pasukan RPKAD.
Sesampainya di lokasi, Benny melihat korban telah berjatuhan dari kedua belah pihak. Tanpa aba-aba, Benny menuju asrama KKO di Kwini untuk melerai pertikaian dengan tangan kosong.