JAKARTA - Istri aktivis Munir Said Thalib yakni Suciwati hadir dalam Orasi Demokrasi Save Demokrasi Lawan Dinasti di Waroeng Sadjoe, Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat (8/12/2023) malam. Dia menyinggung maraknya aksi korupsi saat ini.
Suciwati awalnya bercerita tentang bagaimana seorang Munir yang berjuang dengan luar biasa untuk HAM. Dia mendampingi suaminya sebagai seorang aktivis HAM selama 8 tahun. Lima tahun sebelumnya, dia dan Munir bekerja bersama untuk pendampingan buruh di Jawa Timur.
"Selama bersama dia, pilihan buat saya tepat karena jiwa dan raganya itu memang tuk korban. Dia orang yang sangat akuntabel, gajinya tiap bulan tak pernah daimbil sedikit pun, langsung diberikan pada saya sebagai istrinya. Ketika saya kasih bahkan itu hanya tuk beli bensin, kalau kelebihan sedikit itu dikeluarkan," ujar pada Jumat (8/12/2023).
Menurutnya, pada sekira 2003, suaminya itu satu minggu hanya meminta uang Rp20 ribu untuk bensin motor. Berbeda dengan suami orang, yang mungkin berpikir tentang bagaimana cara menyembunyikan uang dari istrinya.
"Jadi, buat saya dia luar biasa. Maka, saya bilang saya tak pernah salah pilih (suami)," tuturnya.
Dia lantas bercerita tentang saat Munir mengadvokasikan orang hilang di tahun 98, yang mana saat itu tengah ramai-ramainya telpon. Kala itu, Munir harus menghubungi orang-orang berkaitan advokasi kasus orang hilang tersebut.
"Akhirnya bengkak, yang namanya telfon waktu itu masih barulah, telpon yang segede gardu genggamnya, pernah bengkak (tagihan) sampai Rp1 juta. Kita harus bayar dong mengeluarkan uang sendiri dengan gajinya," jelasnya.
Suciwati pun membandingkan, kala satu hari dia pergi ke kantor dia mendadak ada keperluan mendesak, dia pun hendak menggunakan telpon, tapi Munir melarangnya. Pasalnya, itu merupakan telpon kantor sehingga saat dia menggunakan telpon kantor, itu bisa disebut sebagai korupsi.
"Bayangkan jadi nilai-nilai seperti itulah yang dia tanamkan pada dirinya sendiri, sangat disiplin, sangat keras, dan saya bangga mempunyai dia. Sementara hari ini semuanya bangga untuk korupsi, berbanding terbalik semua yang terjadi hari ini," ujarnya.
Dia pun membandingkan, Munir menanamkan diri tentang antikorupsi, sedangkan dewasa ini orang justru merasa bangga melakukan korupsi. Sehingga, tak salah jika dia menilai adab bangsa Indonesia ini tengah diinjak-injak.
"Adab bangsa ini luar biasa terinjak-injak, katanya mayoritas yah, beragama, tapi kenapa korupsi itu begitu marak. Penjahat HAM dielu-elukan," katanya.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.