Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menyelamatkan Manuskrip Kuno Peninggalan Pasukan Pangeran Diponegoro

Qur'anul Hidayat , Jurnalis-Selasa, 12 Desember 2023 |05:49 WIB
Menyelamatkan Manuskrip Kuno Peninggalan Pasukan Pangeran Diponegoro
Manuskrip kuno. (Foto: Dreamsea)
A
A
A

MASJID At-Taqwa adalah masjid kuno yang berada di di Dusun Godhegan yang terletak di kaki Gunung Lawu, Magetan. Wilayah yang dikenal dengan Kota Kaki Gunung dulunya merupakan tempat tujuan pelarian para pasukan pribumi pasca meletusnya Perang Jawa (1525-1830) yang dipimpin Pangeran DIponegoro.

Cukup mudah menandai bahwa masjid ini didirikan oleh mantan pasukan Pangeran Diponegoro yakni tumbuhnya pohon sawo kecik di depan masjid. Oleh pemerintah, masjid ini sudah dinobatkan sebagai salah satu Benda Cagar Budaya sehingga mendapatkan perawatan rutin.

“Masjid ini didirikan sekitar tahun 1840 oleh bekas pengawal Pangeran Diponegoro. Namanya Kiai Imam Nawawi,” tutur Kiai Hamid, sesepuh masjid.

BACA JUGA:

Kisah Eks Kopassus, dari Dokter Militer hingga Sukses Jualan Obat 

Kiai Hamid menambahkan bahwa, selain Kiai Nawawi, Eyang Buyut Mustarim juga berperan dalam pendirian masjid ini. Ia merupakan keturunan Ki Ageng Sengoro yang melarikan diri ketika terjadi perang antara Majapahit dan Demak.

Pada masa lampau, di sebelah utara masjid ini berdiri pula sebuah pesantren. Tidak ada nama resmi, namun masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama ‘Pesantren Godhegan’. 

Kini tidak ada lagi aktivitas pesantren di samping masjid yang dibuat pasukan Pangeran Diponegoro itu. Meski demikian aktivitas kegiatan belajar mengaji anak-anak di desa ini masih berjalan semestinya.

Masjid kuno dan pesantren adalah salah satu tempat di mana manuskrip seringkali ditemukan. Begitu pula dengan Masjid Kuno At-Taqwa. Menurut pengakuan Kiai Hamid, para leluhurnya meninggalkan warisan berupa ratusan bundel manuskrip yang berisi ragam ajaran-ajaran keislaman. Namun, hingga kini hanya 18 bundel manuskrip saja yang tersisa.

“Manuskrip-manuskrip itu berangsur-angsur hilang karena kondisi bangunan masjid yang mulai rapuh dan bocor. Sebagian diselamatkan, sebagian lagi dibakar karena rusak. Sejak dipugar pada tahun 1997, tersisa 18 manuskrip saja,” ungkap Kiai Hamid.

 BACA JUGA:

Meskipun menyadari akan pentingnya manuskrip-manuskrip tersebut, Kiai Hamid menambahkan dirinya merasa kesulitan untuk menyelamatkannya. Tidak ada perawatan khusus selain menempatkannya di dalam lemari kayu yang diletakkan di bagian teras masjid. Kini, benda cagar budaya tersebut berada dalam kondisi yang memprihatinkan misalnya banyak bagian-bagian yang sobek, lembab, berlubang, dan rapuh.

Untuk mengantisipasi semakin meluasnya kerusakan-kerusakan itu, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Centre forthe Study ofManuscriptCulture (CSMC) UniversityofHamburg berinisiatif untuk melakukan misi penyelamatan terhadap manuskrip-manuskrip tersebut. Melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA), kedua lembaga ini bekerjasama untuk menyelamatkan isi manuskrip-manuskrip itu dengan cara mengalihkannya menjadi media digital.

Nuansa Keilmuan Keislaman Abad Ke-19

Belasan bundel manuskrip yang disimpan di Masjid Kuno At-Taqwa seluruhnya berisi ajaran-ajaran keislaman. Dari hasil identifikasi, terdapat manuskrip-manuskrip yang sangat dikenal sebagai bahan ajar dalam kajian keislaman pesantren seperti Umm al-Barahindan Sharh Kalimatay al-Shahadatayn (ilmu teologi Islam), Muqaddimah al-Hadhramiyyah (ilmu fikih), Tafsir al-Jalalayn (ilmu tafsir Alquran), dan Sharh al-Ajurumiyyah (Tata Bahasa Arab).

“Isi teks dalam manuskrip-manuskrip ini cukup berbobot. Abad ke-19 di tempat ini sudah menggunakan kurikulum kitab-kitab seperti ini. Artinya, nuansa keilmuan keislaman di daerah ini sangat berkembang,” ungkap M. Adib Misbachul Islam yang merupakan Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).

Manuskrip-manuskrip tersebut seluruhnya ditulis di atas kertas Eropa dan beberapa juga terdapat manuskrip berbahan kulit kayu daluwang. Adapun dari sisi penggunaan aksara dan bahasa, manuskrip-manuskrip di sini mayoritas menggunakan aksara Arab dan Pegon serta bahasa Arab dan Jawa.

“Ditemukan titi mangsa atau waktu penulisan manuskrip-manuskrip ini. Salah satunya adalah berangka tahun 1847. Selain itu, ditemukan pula nama penyalin seperti Muhammad Idris, Ahmad Anom, dan Puspa Sentana,” ungkap Direktur Lingkar Filologi Ciputat, Fathurrochman Karyadi.

Temuan-temuan tersebut tentu akan memberikan sumbangan besar untuk mengungkap kekayaan khazanah intelektual masyarakat Indonesia khususnya pada abad ke-19. Tim di lapangan akan mencatat setiap informasi yang ditemukan baik yang berada di dalam manuskrip maupun berbagai informasi yang ditemukan berdasarkan paparan dari masyarakat setempat.

Data-data tersebut akan menyempurnakan hasil digitalisasi dari manuskrip-manuskrip tersebut. Hasilnya akan diunggah dalam sebuah database manuskrip-manuskrip Asia Tenggara yang kedepan akan dapat diakses secara publik untuk berbagai keperluan non-komersial dan akademik. Sementara itu, manuskrip fisiknya akan tetap disimpan oleh pemiliknya yang sebelumnya telah diberikan pendampingan mengenai tata cara perawatannya.

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement