Penjemputan ini dilakukan karena sumber makanan di Abai itu dari Bidar Alam dan diantar pakai perahu. Jadi maka diputuskan itu untuk menjemput ketua PDRI lewat Khatib Jamaan selaku Komandan Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK).
”Saat menjemput Pak Syafruddin, Khatib Jamaan membawa dendeng empat kilogram. Dia menumpang perahu pedagang menuju Abai. Ini dilakukan untuk menyamar agar tidak diketahui mata-mata Belanda. Selain itu, memang jalan darat tidak ada,” ujarnya.
Memasuki Abai, rombongan mendapat pengawalan sangat ketat dari tentara dan BPNK Sangir. Saat itu, Khatib Djamaan bersama temannya harus diperiksa dulu. Pemeriksaan juga dilakukan secara berlapis. Setelah mendapat keyakinan, maka Khatib Djamaan bertemu dengan Syafruddin.
Ketika sampai di rumah Angku Palo Gaek, Khatib Jamaan menyampaikan pesan kepada Syafruddin untuk pindah ke Bidar Alam. Namun, saat itu Syafruddin belum yakin, maka diutuslah tentara untuk melihat kondisi serta memberikan laporannya.
Setelah dipastikan aman, rombongan terdiri dari 39 orang, termasuk Syafruddin, berangkat ke Bidar Alam pada 24 Januari 1949. ”Sampai di Bidar Alam, barulah saya bertemu dengan beliau. Bapak Syafruddin dan rombongan disambut di pelabuhan dekat Surau Annur. Kemudian, keamanan diserahkan ke BPNK Bidar Alam,” ungkapnya.
Ada beberapa hal yang masih dipertanyakan soal lamanya Syafruddin di Bidar Alam serta alasan kepindahnya ke tempat itu. Dari pernyataan di atas alasan pindah ke Bidar Alam karena stok makanan yang susah. Namun, di balik itu, kata Abbas, ada unsur politik sehingga Ketua PDRI mau diajak ke lokasi baru.
”Bidar Alam orangnya Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) semuanya. Khatib Jamaan itu ketua dan saya wakilnya. Jadi Bidar Alam kami Masyumikan semuanya. Sementara Pak Syafruddin itu kan orang Masyumi. Memang ada PKI yang datang, tapi kami tidak peduli itu. Kami perlu Pak Syaf,” terangnya.
Abbas menuturkan, selama Syafruddin berada di Bidar Alam, dia menjadi pengawalnya. Syafruddin betah di Bidar Alam sebab dia merasa seperti di kampungnya sendiri.
”Bahkan saat di Bidar Alam, kalau dia pergi ke mana tidak pakai pengawal, tidak seperti wakilnya Mohammad Hasan. Dia punya pengawal dan memakai senjata lengkap, bernama Ibrahim. Buang air besar saja dikawal. Saat di Bidar Alam mereka menginap di rumah penduduk, untuk Pak Syaf tinggal di Rumah Jama,” ulas Abbas.