Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengenal Sosok Sabda Palon, Peramal Kepercayaan Orang Jawa yang Bisa Meramal Presiden hingga Bencana Alam

Awaludin , Jurnalis-Kamis, 11 Januari 2024 |15:01 WIB
 Mengenal Sosok Sabda Palon, Peramal Kepercayaan Orang Jawa yang Bisa Meramal Presiden hingga Bencana Alam
Illustrasi Sabda Palon (foto: dok istimewa)
A
A
A

SABDAPALON atau Sabdo Palon, adalah sosok legendaris tanah Jawa di Gunung Tidar area Jawa Tengah yang beragama Hindu/Buddha terakhir yang dekat dengan raja Majapahit kala itu. Sabda Palon terkenal karena pertarungannya dengan Syekh Subakhir selama 40 hari 40 malam, berakhir imbang yang akhirnya membuat perjanjian legendaris yang dipercaya masyarakat Jawa.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Kamis (11/1/2024). Nama Sabda Palon disebut-sebut dalam Serat Darmagandhul, ditulis oleh Ki Kalamwadi, dengan waktu penulisan hari Sabtu Legi, 23 Ruwah 1830 Jawa (atau sangkala Wuk Guneng Ngesthi Nata, sama dengan 16 Desember 1900). Serat Darmagandhul adalah suatu tembang macapat kesusastraan Jawa Baru berbahasa Jawa ngoko. Disebutkan bahwa Sabdapalon tidak bisa menerima sewaktu Brawijaya digulingkan pada tahun 1478 oleh tentara Demak dengan bantuan dari Walisongo (walaupun pada umumnya dalam sumber-sumber sejarah dinyatakan bahwa Brawijaya digulingkan oleh Girindrawardhana).

Lalu, Sabda Palon bersumpah akan kembali setelah 500 tahun, saat korupsi merajalela dan bencana melanda, untuk menyapu Islam dari Jawa dan mengembalikan kejayaan agama dan kebudayaan Jawa (dalam Darmagandhul, agama orang Jawa disebut agama Agama Budhi, yang dahulu ajaran Buddha berdampingan dengan ajaran Hindu). Serat Damarwulan dan Serat Blambangan juga mengisahkan tokoh ini.

Pada tahun 1978, Gunung Semeru meletus dan membuat sebagian orang percaya atas ramalan Sabdapalon tersebut. Tokoh Sabdapalon dihormati di kalangan umat Hindu di Jawa serta di kalangan aliran tertentu penghayat kejawen.

Menurut Guru Ahli Spritual, keberadaan Sabdo Palon tak lain adalah sosok Raja Jin Gunung Tidar, Jawa Tengah. Kesaktiannya yang membuat angkernya Pulau Jawa sehingga Raja Turki Mehmed I mengutus Syekh Subakir untuk meruqyah Pulau Jawa. Maka Raja Turki Mehmed I mengutus Syekh Subakir dari Persia dan Pamannya Maulana Malik Ibrahim syiar ke Nusantara.

Singkat cerita, Syekh Subakir sebagai ulama Persia melakukan Perjanjian dengan Sabdo Palon dan akhirnya diijinkan untuk menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

Sabda Palon identik dengan Semar dalam lakon Mahabharata versi Jawa. Dalam dunia pewayangan, dia muncul bersama anak-anaknya, yakni Gareng, Petruk, dan Bagong.

Menurut Antropolog Paul Stange dalam penelitiannya pada 1988, Sabdo Palon merupakan inkarnasi sebagai Semar, yang dikenal sebagai mahaguru di Tanah Jawa. Mereka adalah titisan dewa dari kayangan yang sengaja turun ke bumi menjadi panakawan (kawan yang paham). Tugasnya menjadi pemomong raja dan pengayom kawula. Nama ini kerap disandingkan dengan sosok Naya Genggong. Keduanya senantiasa hadir mengiringi pemerintahan raja-raja Jawa di masa Hindu-Buddha.

Berikut ramalan Sabda Palon untuk tahun 2024 dalam akun youtube @Nauraproduction :

1. Banyak Orang Akan Tinggalkan Tanah Jawa

 

Dalam ramalan Sabda Palon, banyak orang akan meninggalkan tanah Jawa. Lantaran hilangnya pusat kekuatan spiritual dan kebudayaan. Serta berkurangnya kekayaan alam yang melimpah sehingga tidak lagi mata pencaharian di sana.

2. Pola Pikir Manusia Berubah

 

 

Selain itu, beberapa nilai spiritual serta pikir manusia di Indonesia akan berubah. Salah satunya hilangnya kepercayaan dalam agama. Dikarenakan banyak mengejar materi kehidupan dibandingkan spiritual.

 

3. Sosok Presiden Indonesia yang Baru

 

Dalam ramalannya bahwa Presiden yang terpilih akan berasal keturunan raja. Serta memiliki darah biru dan garis keturunan yang jelas.

 

 

4. Bencana Alam

 

Indonesia diprediksi akan banyak mengalami bencana alam. Salah satunya banjir bandang yang akan banyak memusnahkan pemukiman warga. Serta banyaknya gunung meletus yang menyebabkan kematian lebih tinggi.

 

 

5. Kehilangan Pendapatan

Ini menyebabkan orang-orang bekerja tanpa hasil mencukupi, para priyayi banyak yang susah hatinya, saudagar selalu mengalami kerugian, begitu juga orang-orang pertanian. Penghasilan mereka banyak yang hilang di hutan, karena di Bumi sendiri sudah mulai berkurang hasilnya. Terdapat banyak hama menyerang, dan hilangnya kayu.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement