Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Inilah Alasan Mengapa Tahun Kabisat Hanya Jatuh di Bulan Februari

Rina Anggraeni , Jurnalis-Jum'at, 12 Januari 2024 |06:23 WIB
Inilah Alasan Mengapa Tahun Kabisat Hanya Jatuh di Bulan Februari
Ilustrasi alasan mengapa tahun kabisat ada di bulan Februari (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Inilah alasan mengapa tahun kabisat hanya jatuh di bulan Februari. Adapun, setiap tahun mempunyai 365 hari, namun setiap empat tahun kalender mempunyai satu hari tambahan.

Disebut sebagai 'hari kabisat', tanggal 29 Februari sudah ditetapkan, menjadi hari terakhir dalam bulan dengan durasi terpendek. Lantas apa alasanya Februari menjadi tahun kabisat?

Ternyata inilah alasan mengapa tahun kabisat hanya jatuh di Bulan Februari dikarenakan berdasarkan perhitungan orbit bumi. Selain itu pada masa dahulu, hanya terdapat 10 bulan dalam 1 tahun. Hitungannya dimulai dari bulan Maret dan diakhiri di bulan Desember.

Namun hitungan 10 bulan dalam 1 tahun itu tidak sesuai dengan perubahan musim dan hitungan hari per tahun yang hanya berjumlah 304 hari.

Sebagai solusi, Raja Roma Numa Pompilius pada 700 SM menambahkan jumlah bulan yang semula 10 menjadi 12. Februari lantas menjadi bulan penutupan dalam 1 tahunnya.

Selanjutnya Kaisar Julius Caesar menetapkan bahwa 1 tahun terdapat 365 atau dan 366 hari, yang setiap 4 tahun sekali disebut sebagai tahun kabisat.

Perubahan ini dilakukan karena menurut Caesar, perhitungan Numa Pampilius masih tidak tepat. Julius Caesar menetapkan bulan Februari memiliki 29 hari dan di setiap tahun kabisat menjadi 30 hari.

Masa kepemimpinan terus berganti, kemudian Julius Caesar digantikan oleh Kaisar Agustus, yang kemudian mengubah nama bulan Sextilis menjadi Augustus untuk mengabadikan namanya.

Ia juga mengubah bulan Augustus yang tadinya hanya berjumlah 30 hari menjadi 31 hari. Augustus juga mengurangi hari di bulan Februarius untuk menambahkan hari di bulan Augustus. Jadi, Februarius hanya berjumlah 28 hari dan 29 hari di tahun kabisat.

Tahun terus berganti dan Kalender Romawi menunjukan kesalahannya lagi. Hal ini kemudian dikoreksi oleh Paus Gregorius XIII yang merupakan pimpinan gereja Katolik di Roma (1582). Setelah dikoreksi, Paus Gregorius mengambil keputusan yaitu menetapkan bahwa awal tahun diubah menjadi tanggal 1 Januari dan bulan Desember menjadi penutup.

Nama Februari sendiri berasal dari nama sebuah festival di Romawi yaitu Februa, yang merupakan festival untuk penyucian. Festival ini biasa diadakan pada hari ke-15 di bulan tersebut. Nama Februa mengacu pada salah satu suku kuno yang bertempat di Romawi, yaitu suku Sabine.

(Rina Anggraeni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement