SEOUL - Dua warga negara Indonesia (WNI) sedang diperiksa atas dugaan mencuri data teknologi yang terkait dengan jet tempur multiperan canggih KF-21.
Menurut badan pengadaan senjata negara Korea Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) pada Jumat (2/1/2024), kedua insinyur tersebut ditugaskan untuk mengerjakan proyek KF-21 di Korea Aerospace Industries (KAI), satu-satunya produsen pesawat di negara tersebut.
DAPA mengatakan para insinyur diduga mencoba menyimpan data rahasia dari proyek KF-21 pada perangkat USB. Mereka saat ini dilarang meninggalkan Korea.
“Investigasi bersama oleh lembaga terkait, termasuk Badan Intelijen Nasional, saat ini sedang berlangsung untuk mengklarifikasi rincian mengenai dugaan pencurian teknologi oleh warga Indonesia,” kata seorang pejabat DAPA kepada wartawan, dikutip Korea JoongAng Daily.
Pejabat tersebut mengatakan penyelidikan difokuskan pada identifikasi dokumen spesifik yang coba dicuri oleh para insinyur Indonesia.
Dia mencatat bahwa drive USB sebagian besar berisi dokumen umum yang tidak terkait dengan teknologi strategis yang mungkin melanggar undang-undang tentang rahasia militer atau teknologi pertahanan.
Sumber lain yang mengetahui kasus ini mengatakan bahwa penyelidikan berfokus pada apakah data yang disimpan di perangkat USB mengandung teknologi strategis yang terkait dengan pengembangan KF-21, yang juga dikenal sebagai Boramae.
Penyidik juga menyelidiki kemungkinan bahwa para insinyur tersebut mempunyai kaki tangan internal, karena akses mereka ke zona tertentu di dalam kompleks KAI dibatasi.
Meskipun Jakarta pada awalnya berjanji untuk membayar 20 persen dari harga proyek KF-21 sebesar 8,8 triliun won (USD6,5 miliar), namun negara tersebut saat ini menunggak lebih dari 1 triliun won, dan sejauh ini hanya membayar sekitar 278,3 miliar won.
Seoul berencana untuk memulai produksi jet tempur KF-21 akhir tahun ini dengan tujuan mengerahkan 120 jet KF-21 pada 2032.
Sementara itu, Indonesia berencana memproduksi 48 jet KF-21 secara lokal setelah menerima satu prototipe dan data teknis.
Digadang-gadang dapat menggantikan pesawat tempur supersonik McDonnell Douglas F-4 Phantom II dan Northrop F-5 milik Angkatan Udara, KF-21 dibayangkan sebagai pesawat generasi 4,5 yang setara dengan F-16 terbaru tetapi kurang siluman dibandingkan generasi kelima. Adapun F-35 Lightning II dikembangkan oleh Lockheed Martin.
Selama proses pengembangan KF-21, para insinyur Korea melokalisasi empat teknologi utama yang diperlukan untuk pesawat tempur siluman dalam negeri, namun transfernya telah diblokir oleh Amerika Serikat (AS). Yakni sistem radar active electronically scanning array (AESA), sistem pencarian dan pelacakan inframerah, sistem elektrooptik. menargetkan pod dan jammer frekuensi radio.
Enam prototipe KF-21 hingga saat ini telah berhasil menyelesaikan uji terbang, dengan prototipe pertama telah mengudara pada Juli 2022. Prototipe keenam sekaligus terakhir menjalani pengujian pada Juni 2023 lalu.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.