Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Linmas Meninggal Usai Nonstop 48 Jam Jaga TPS, Keluarga: Bapak Tulang Punggung Keluarga

Avirista Midaada , Jurnalis-Senin, 19 Februari 2024 |20:35 WIB
Linmas Meninggal Usai Nonstop 48 Jam Jaga TPS, Keluarga: Bapak Tulang Punggung Keluarga
Ilustrasi (Foto: Okezone)
A
A
A

MALANG - Seorang petugas Linmas di Kota Malang meninggal dunia usai mengamankan Pemilu 2024 selama dua hari nonstop. Petugas Linmas bernama Marjani (67) warga Jalan Teluk Pelabuhan Ratu Gang Semar RT 6 RW 2 Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, itu meninggal dunia pada Senin pagi (19/2/2024) sekitar pukul 06.30 WIB.

Siti Khoiriyah, istri korban menuturkan sebelum meninggal dunia suaminya memang sempat berjaya di TPS sejak Selasa malam 13 Februari 2024 hingga Kamis pagi (15/2/2024). Suaminya baru pulang dan tiba di rumah Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

"Sebelum ke TPS itu sudah sakit, sakit katanya badannya nggereges (demam) biasa, terus dari TPS masih sakit, nggak tahu sewaktu jaga itu gimana," ujar Siti Khoiriyah, ditemui di rumah duka, pada Senin siang (19/2/2024).

Selama di TPS penuturan sang suami, Marjani tidur hanya 15 menit dari total bekerja 48 jam. Hal ini diduga membuat penyakitnya kambuh, apalagi Marjani punya riwayat asam lambung dan darah tinggi, meski selama ini tak pernah mengeluhkan sakit.

"Sehabis dari TPS masih sakit itu kata dokter kena asam lambung. Waktu di TPS itu katanya nggak ada tidur, tidurnya cuma seperempat jam saja dari dua malam jaga itu," terangnya.

Kondisi itulah yang membuat Marjani sempat tumbang sepulang dari tugas pada Kamis 15 Februari 2024. Bahkan oleh keluarganya ia dibawa periksa ke dokter sore harinya, tapi kemudian hari berikutnya bisa beraktivitas normal lagi.

"Tapi tadi pagi itu pas mau mau mengeluarkan motor, mau berangkat kerja sudah pakai seragam satpam, duduk di bawah lemas, sudah nggak sadar, diangkat sama adiknya dibawa ke kamar," jelasnya.

Saat di kamar itulah, pihak keluarga memanggil dokter yang datang ke rumah, tapi sayang saat dokter tiba pukul 06.30 WIB, nyawa Marjani sudah tak ada. Dokter mendiagnosa korban mengalami asam lambung ditambah dengan riwayat darah tinggi.

"Kemarin itu pulang jaga ngeluh kecapekan, terus kurang tidur, mungkin di situ masuk angin, di TPS tidur seperempat jam saja. Tidur di TPS katanya ada kasur sama bantal disediakan," terangnya.

Perempuan dengan tiga orang anak mengatakan, selama masa hidup suaminya memang jarang sakit. Hanya dua pekan sebelum Pemilu digelar itu, pria berusia 67 tahun itu sempat sakit. Tapi karena suaminya merupakan tulang punggung keluarga, Marjani tetap bekerja sebagai satpam di salah satu perumahan di Jalan Teluk Etna, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, serta bertugas jaga TPS.

"Bapak ini tulang punggung di rumah, nggak ada yang kerja, tulang punggung bapak, yang lain nggak ada yang kerja di rumah tinggal berenam bapak, saya, anak saya yang bungsu, dan tiga cucu," paparnya.

Sejauh ini kata Khoiriyah, belum ada santunan yang diterima dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Ia pribadi berharap agar bisa menerima santunan usai kehilangan tulang punggung keluarga.

"Pak Lurah dan KPU sudah ke sini. Katanya mau diurus (santunannya) tadi ke sini. Katanya pak Lurah baru memberi kesan-kesan, nggak ngomong akan ada pemberian santunan," tandasnya.

(Fakhrizal Fakhri )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement