Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Heroik Prajurit Kopassus Tetap Berpuasa saat Bertempur di Hutan Kalimantan

Qur'anul Hidayat , Jurnalis-Selasa, 09 April 2024 |05:08 WIB
Kisah Heroik Prajurit Kopassus Tetap Berpuasa saat Bertempur di Hutan Kalimantan
Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

PASUKAN Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) pernah menjadi ancaman bagi Indonesia. Pemerintah lantas menugaskan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat untuk menghentikan pergerakan komunis di Sarawak.

Paraku merupakan bagian militer dari Partai Komunis Kalimantan Utara atau North Kalimantan Communist Party (NKCP), yang didirikan pada 19 September 1971 di bawah pimpinan Wen Min Chyuan dari Organisasi Komunis Sarawak dengan dominasi anggota Tionghoa.

NKCP dibentuk sebagai platform perjuangan untuk menyatukan seluruh wilayah Kalimantan yang dulu berada di bawah kekuasaan Inggris, dengan tujuan membentuk negara merdeka, yaitu Kalimantan Utara.

Awalnya, Indonesia mendukung Paraku dan memberi mereka pelatihan perang gerilya untuk melawan kekuasaan kolonial Inggris dan Malaysia dalam gerakan Ganyang Malaysia. Namun, setelah terjadi G30S/PKI dan beralihnya kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto, situasinya berubah.

Pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto meminta Paraku untuk menyerahkan senjata dan menyerah, tetapi mereka menolak. Karena dianggap sebagai ancaman karena aliran komunisnya, Soeharto bersama Malaysia dan Inggris mengambil tindakan untuk menumpas Paraku. Perang melawan Paraku berlangsung dari tahun 1967 hingga 1969, dengan Kopassus ikut terlibat dalam upaya untuk menghentikan gerakan tersebut.

Pada suatu waktu selama bulan Ramadhan, terjadi pertempuran antara prajurit Kopassus dan Paraku di hutan Kalimantan. Meskipun dalam situasi perang, prajurit Kopassus tetap melaksanakan ibadah puasa.

Pada saat itu, Jenderal Wismoyo Arismunandar bertugas di Kalimantan Barat pada tahun 1969-1970. Beliau menjadi satu-satunya tentara yang menemukan apa yang disebut sebagai Dead Letter Box.

Hal ini diungkap oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara, Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, dalam postingannya di Instagram. Dia menjelaskan bahwa sistem komunikasi dari pasukan gerilya Paraku menggunakan Dead Letter Box, di mana kurir membawa pesan dari satuan induk mereka untuk satuan lainnya, kemudian menyembunyikan surat di dalam tanah yang kemudian diambil oleh kurir lain di lokasi yang sudah disepakati sebelumnya.

Penemuan ini sangat berharga karena memungkinkan pasukan elit seperti Kopassus untuk memahami komunikasi antar kelompok bersenjata tersebut.

(Qur'anul Hidayat)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement