Setelah mendapat pathokan atau data baru, Raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, lalu menulis kembali dengan gubahan Jangka Jayabaya yang merupakan perpaduan antara Kakawin Bharatayudha dengan Kitab Asrar, serta gambaran pertumbuhan negara-negara yang sebelumnya berbentuk babad.
Lalu, dari hasil penelitiannya, dicarikan inti sari dan diorbitkan dalam bentuk karya baru, dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di masa mendatang. Cita-cita sang Pujangga yang dilukiskan sebagai zaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran mata batin Sultan Agung.
Jika kita teliti secara kronologi, sekarang zaman keemasan tersebut menunjukkan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh, yang kini bernama Republik Indonesia. Kedua sumber yang dipadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga atau sastrawan yang hidup di abad-abad kemudian.
(Arief Setyadi )