5. Berdakwah Melalui Perdagangan
Sunan Gresik berdakwah melalui perdagangan. Pada awalnya, ia berdagang di tempat terbuka dekat pelabuhan agar masyarakat tidak kaget dengan ajaran baru yang dibawanya. Sunan Gresik berhasil mengundang simpati masyarakat, termasuk Raja Brawijaya. Akhirnya, ia diangkat sebagai Syahbandar atau kepala pelabuhan.
6. Pendiri Pesantren Pertama di Nusantara
Wali Songo juga meninggalkan tradisi hebat untuk membentuk generasi Islami, yakni mendirikan pondok pesantren. Awalnya Sunan Gresik menyebarkan Islam dengan mendirikan pondokan untuk mengajar agama di Gersik.
Berawal dari pondok tersebut kemudian Sunan Ampel mengembangkannya menjadi pesantren. Pendirian pondok pesantren ini kemudian juga diikuti beberapa wali serta para santri lainnya hingga saat ini.
7. Menyebarkan Islam Melalui Wayang
Sunan Bonang menyebarkan ajaran Islam dengan cara menyesuaikan diri terhadap corak kebudayaan masyarakat Jawa. Seperti diketahui, orang Jawa sangat menggemari wayang dan musik gamelan. Karena itulah, Sunan Bonang menciptakan gending-gending yang memiliki nilai-nilai keislaman.
Setiap bait lagu ciptaannya diselingi ucapan dua kalimat syahadat sehingga musik gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan istilah sekaten.
Sunan Kalijaga juga turut mendakwahkan nilai Islam dengan wayang.
8. Membentuk Kebudayaan Jawa
Wali Songo masuk ke tanah Jawa saat ajaran Hindu - Budha masih dianut masyarakat. Dalam syiarnya, para wali sengaja tak ingin mengubah kebudayaan yang telah berlaku di kalangan masyarakat, namun justru menjadikannya sebagai media dakwah.
Seperti yang dilakukan Raden Syahid atau Sunan Kalijaga yang melakukan dakwah dengan pendekatan kesenian wayang. Wayang Purwa yang berasal dari ajaran Hindu diisi dengan ajaran Islam seperti adanya Jimat Kalimosodo yang dimiliki oleh Prabu Puntodewo. Jimat atau pusaka tersebut digambarkan sebagai kalimat Syahadat.
Pendekatan lain yang kini menjadi tradisi yakni budaya Nyadran, ziarah kubur saat bulan Ruwah dalam kalender Jawa atau bulan Rajab pada kalender Hijriyah. Dahulu masyarakat sering memberikan sesaji di kuburan leluhur, oleh Sunan Kalijaga kebiasaan itu dijadikan sebagai media dakwah.
Sesaji yang dahulu diberikan dan ditinggal di kuburan diganti dengan tumpeng yang kemudian dimakan warga secara bersama-sama saat Nyadran. Selain itu dalam Nyadran juga diisi dengan membaca ayat-ayat yang bertujuan untuk mendoakan leluhur yang telah meninggal.
(Salman Mardira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.