BEIRUT - Di aula keberangkatan di Bandara Beirut, Lebanon, terlihat banyak keluarga duduk di kursi, anak-anak berbaring di pangkuan orang tua mereka. Lalu beberapa penumpang mengawasi tumpukan tas dan memeriksa layar televisi untuk keberangkatan penerbangan ke berbagai lokasi termasuk Istanbul, Amman, dan Kairo.
Meningkatnya ketegangan juga telah memaksa maskapai penerbangan besar, termasuk maskapai penerbangan Belanda KLM, Lufthansa, Emirates, Air France, Turkish Airlines, Singapore Airlines, dan Swiss Airlines, untuk menghentikan penerbangan mereka ke Israel, Iran, dan Lebanon.
Ketegangan dan pembatalan telah membuat rencana perjalanan menjadi kacau bagi banyak warga Lebanon yang bekerja atau belajar di luar negeri dan yang biasanya menggunakan liburan musim panas tahunan mereka untuk mengunjungi kerabat dan teman di rumah.
Gretta Moukarzel, yang mengelola agen perjalanan di dekat Beirut, mengatakan bahwa dia telah menerima banyak panggilan telepon dari klien yang ingin pergi dan takut terjebak di Lebanon.
“Menemukan tempat duduk menjadi sulit karena banyaknya penerbangan yang dibatalkan dan meningkatnya permintaan, terutama untuk negara-negara Eropa,” terangnya.
"Sejumlah besar warga Lebanon yang datang ke Lebanon untuk liburan telah membatalkan reservasi mereka," tambahnya.
Penumpang juga menunggu dalam antrean panjang di bilik check-in dan sekali lagi untuk melewati pemeriksaan keamanan.
Sirine Hakim, 22 tahun, mengatakan dia telah menghabiskan hampir tiga minggu di Lebanon untuk menemui keluarga dan harus pergi karena komitmen pekerjaan di luar negeri.
"Saya seharusnya berangkat kemarin, tetapi penerbangan saya ditunda," katanya.
Di dekat area kedatangan, yang biasanya ramai selama musim panas, hanya sejumlah kecil orang yang menunggu orang-orang terkasih.
"Banyak warga Lebanon adalah imigran, dan beberapa datang untuk liburan musim panas mereka," kata Ali Hashem dari Al Jazeera, melaporkan dari Beirut
"Dengan banyaknya maskapai penerbangan yang membatalkan dan dengan terganggunya penerbangan, orang-orang akan ingin pergi sesegera mungkin sebelum pembalasan dimulai,” lanjutnya.
Ia mengatakan Perdana Menteri (PM) Lebanon telah menyatakan negaranya memiliki hak untuk membalas agresi apa pun.
Di sepanjang jalan bandara yang melewati pinggiran selatan Beirut, benteng Hizbullah, sebuah papan reklame besar menunjukkan gambar Haniyeh dari Hamas dan Shukr dari Hezbollah yang bertuliskan: "Kami akan membalas dendam".
Kedua pemimpin yang terbunuh itu terlihat sedang mengapit Qassem Soleimani, seorang komandan Garda Revolusi Iran dan kepala pasukan operasi luar negerinya, Pasukan Quds, yang tewas dalam serangan pesawat nirawak AS di Irak pada tahun 2020.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.