Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Hubungan Diplomatik Cina dan Sriwijaya di Bandar Dagang Internasional

Avirista Midaada , Jurnalis-Selasa, 29 Oktober 2024 |08:14 WIB
Kisah Hubungan Diplomatik Cina dan Sriwijaya di Bandar Dagang Internasional
Ilustrasi (Foto: Ist)
A
A
A

JAKARTA - Pusat perdagangan internasional di Pulau Sumatera berkembang di abad 7 pada kawasan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini terus berkembang dan jadi pusat peradaban di Nusantara kala itu. 

Namun, saat itu belum diketahui nama Sriwijaya, sebab nama itu baru digunakan oleh peneliti George Coedes, dalam bukunya 'Le Royaume de Criwijaya.

Piagam Kota Kapur dianggap menjadi salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya dari tahun 686. Sejarawan Prof. Kern menganggap, nama Sriwijaya yang tercantum pada piagam tersebut adalah nama seorang raja, karena sri biasanya digunakan sebagai sebutan atau gelar raja, diikuti nama raja yang bersangkutan.

Memang berdasarkan beberapa ahli dan sumber berita saat itu, kerajaan ini memiliki berbagai nama yang ditafsirkan. Pada karya I-tsing misalnya nama Sriwijaya belum dikenal. Bahkan dalam buku yang ditulis oleh Prof. Chavannes pada tahun 1894 ke dalam bahasa Perancis, menyebut Sriwijaya sebagai Shih-li-fo-shih.

Sebagaimana dikutip dari buku "Sriwijaya", dari Prof. Slamet Muljana awalnya Shih-li-fo-shih itu dikira transkripsi Tionghoa dari nama asli Sribhoja. Nama Shih-li-fo-shih, yang sering kali disingkat Fo-shih saja, digunakan untuk menyebut negara, ibu kota pusar kerajaan, dan sungai yang muaranya digunakan sebagai pelabuhan.

Terjemahan piagam Kota Kapur oleh Kern, di mana terdapat nama Sriwijaya, dan terjemahan karya I-ts'ing, di mana terdapat transkripsi Tionghoa Shih-li-fo-shih, memungkinkan Coedès untuk menetapkan bahwa Sriwijaya adalah nama negara di Sumatra Selatan, yang ditranskripkan ke dalam tulisan Tionghoa Shih-li-fo-shih.

Beal pada 1886 telah mengemukakan pendapatnya, bahwa negara Shih-li-fo-shih terletak di tepi sungai Musi dekat kota Palembang. Namun, pada pertengahan kedua abad ke-19 itu, nama Sriwijaya belum dikenal.

Kerajaan itu masih disebut dengan nama Tionghoa yang tidak diketahui nama aslinya. Meskipun anggapan itu boleh dipandang sebagai penemuan ilmiah yang asli, namun karena kepincangan tersebut masih kabur sekali.

Bagaimanapun, harus diakui bahwa ilmu sejarah Sriwijaya adalah penemuan Coedès dan lahir dari kecerdasannya dalam menggunakan hasil penyelidikan sarjana-sarjana lainnya. Penemuan Coedès ini mendapat sambutan yang hebat dalam ilmu pengetahuan sejarah, terutama dalam sejarah Asia Tenggara.

 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement