Lebih lanjut, Menteri Fadli Zon juga menekankan peran strategis ASEAN-COCI dalam mempertemukan para seniman, praktisi budaya, dan pemimpin sektor informasi dari seluruh kawasan. “Hal ini selaras dengan visi regional kita untuk mendorong terwujudnya komunitas sosial-kultural ASEAN yang tangguh menuju 2045,” tuturnya.
Populasi anak muda yang diproyeksikan mencapai puncaknya dengan lebih dari 220 juta jiwa, turut disinggung Menbud dalam sambutannya. Baginya, hal ini merupakan potensi luar biasa, dimana ASEAN-COCI memiliki peran penting dalam membina generasi muda.
Dengan jumlah sepertiga dari total populasi kawasan, Fadli mengatakan, “Ini merupakan sebuah reservoir kreativitas, energi, dan talenta bagi pengembangan budaya dan informasi, sekaligus menentukan bagaimana ASEAN dipersepsikan, baik di kawasan maupun di dunia.”
Ia juga menyoroti kolaborasi terbaru yang tengah dilakukan negara-negara ASEAN dalam pengajuan nominasi multinasional kebaya ke Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO yang melibatkan Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Dirinya menilai kolaborasi ini menjadi bukti bagaimana warisan budaya dapat menghubungkan setiap negara di ASEAN.
“Semoga kolaborasi ini akan menginspirasi lebih banyak nominasi bersama di masa mendatang dan semakin memperkuat komitmen kolektif kita terhadap pelestarian warisan,” katanya.