Malabo, yang dikenal sebagai Santa Isabel hingga 1973, awalnya didirikan pada 1827 oleh Inggris dan kemudian berada di bawah kendali Spanyol. Kota ini menjadi ibu kota Guinea Ekuatorial pada 1968, setelah kemerdekaan negara itu, dan berfungsi sebagai pusat politik negara selama lebih dari lima dekade.
Berbicara tentang keunggulan geografis ibu kota baru, pihak berwenang mencatat bahwa kota ini mudah diakses dari seluruh wilayah, dengan waktu tempuh dari distrik mana pun diperkirakan tidak melebihi tiga jam.
Pemimpin negara itu memuji Ciudad de la Paz, yang berarti “Kota Perdamaian”, sebagai “pilihan ideal untuk menampung ibu kota.”
Pemindahan ibu kota dari pesisir ke pedalaman bukanlah hal yang aneh bagi negara-negara Afrika pasca-kolonial. Di Tanzania, ibu kota dipindahkan dari Dar es Salaam ke Dodoma pada 1974. Di Nigeria, Lagos digantikan oleh Abuja pada 1991. Di Pantai Gading, Yamoussoukro menjadi ibu kota politik pada 1983, sementara Abidjan tetap menjadi pusat ekonomi.
(Rahman Asmardika)