Senada dengan itu, Donie Kadewandana, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila, menilai pidato Presiden Prabowo sebagai upaya menjembatani idealisme dengan realitas kebijakan publik.
Ia melihat adanya paradigma besar pembangunan yang diletakkan di atas fondasi stabilitas politik, ekonomi, dan hukum. Menurutnya, pidato tersebut tidak terjebak pada retorika simbolik, melainkan menunjukkan hubungan kausal antara investasi manusia—melalui pemenuhan gizi, kesehatan, dan pendidikan—dengan daya saing ekonomi jangka panjang.
“Tantangan terbesarnya adalah konsistensi pelaksanaan. Namun secara substantif, pidato ini membawa harapan visioner bahwa pembangunan dipahami sebagai proses berkelanjutan, bukan proyek jangka pendek,” tutup Donie.
(Awaludin)