Spekulasi tentang masa depan politiknya meningkat bulan lalu ketika ia bergabung dengan orang tuanya dalam kunjungan Tahun Baru ke Istana Matahari Kumsusan di Pyongyang, sebuah mausoleum keluarga yang memajang jenazah kakek dan buyutnya yang telah dibalsem, pemimpin generasi pertama dan kedua negara itu. Beberapa ahli melihat kunjungan itu sebagai tanda paling jelas bahwa ia diposisikan untuk menjadi pewaris ayahnya yang berusia 42 tahun.
Para pejabat Korea Selatan awalnya menyatakan keraguan bahwa ia dapat dipilih sebagai pemimpin Korea Utara, dengan alasan budaya dan tradisi kepemimpinan yang didominasi laki-laki di negara itu yang sangat konservatif. Namun, kemunculannya yang semakin menonjol di media pemerintah telah mendorong penilaian ulang.
Dalam penilaian sebelumnya mengenai status Kim Ju Ae pada bulan September, NIS mengatakan kepada anggota parlemen bahwa keputusan Kim Jong Un untuk membawanya serta dalam perjalanannya ke Tiongkok kemungkinan merupakan bagian dari upaya untuk membangun "narasi" yang mungkin membuka jalan bagi suksesi dirinya.