Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

China Reklamasi Antelope Reef saat Fokus Militer AS Teralih ke Timur Tengah

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 17 April 2026 |15:08 WIB
China Reklamasi Antelope Reef saat Fokus Militer AS Teralih ke Timur Tengah
Citra satelit menunjukkan pembangunan oleh China di Antelope Reef di Laut China Selatan. (Foto: Uni Eropa)
A
A
A

Strategi Perebutan Pulau oleh China

Taktik China meluas melampaui Antelope Reef. Di seberang Spratly dan Paracel, Beijing mengejar kampanye sistematis "ekspansi wilayah biru." Dengan mengeruk terumbu karang dan membangun infrastruktur militer, Tiongkok mengubah fitur-fitur yang dipersengketakan menjadi wilayah kedaulatan de facto.

Strategi pembangunan pulau Tiongkok beroperasi pada dua front kritis:

  • Secara Hukum: Dengan menduduki dan memperkuat fitur sengketa secara fisik, Beijing memperkuat klaim "garis sembilan titik" yang luas, meskipun putusan pengadilan Den Haag tahun 2016 telah membatalkannya.
  • Secara Militer: Pulau-pulau buatan ini berfungsi sebagai "kapal induk yang tak dapat tenggelam," memungkinkan pengawasan, peperangan elektronik, dan kemampuan anti-akses/penolakan wilayah (A2/AD).

Khawatir dengan ekspansi ini, Vietnam telah mempercepat reklamasi di 21 fitur Spratly. Namun, skala China jauh melampaui upaya regional, memicu efek domino militerisasi yang berisiko mengunci Laut Cina Selatan dalam konflik abadi.

Kerentanan dan Biaya Strategis AS

Asumsi Washington bahwa pos-pos terdepan ini rentan terhadap serangan presisi dinilai meremehkan ketahanan China. Unit perbaikan landasan pacu yang cepat, sistem peperangan elektronik, dan persediaan rudal mempersulit pilihan serangan AS. Terlebih lagi, kekurangan rudal dan logistik yang dialami AS menimbulkan keraguan tentang kemampuannya untuk menetralisir beberapa pulau yang dibentengi dalam konflik yang berkelanjutan.

Dengan menyerahkan inisiatif di Laut Cina Selatan, Amerika Serikat menghadapi biaya strategis yang sangat besar. Jaringan A2/AD Tiongkok yang berkembang mengancam untuk melumpuhkan operasi AS dengan membatasi kebebasan bergerak di Rantai Pulau Pertama. Kekosongan ini juga berisiko mengikis aliansi, karena negara-negara Asia Tenggara mungkin akan berpihak kepada Beijing jika mereka melihat Washington menarik diri.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement