Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Negosiasi Perang AS-Iran Masih Buntu, Blokade Selat Hormuz Terus Berlanjut

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 25 Mei 2026 |20:04 WIB
Negosiasi Perang AS-Iran Masih Buntu, Blokade Selat Hormuz Terus Berlanjut
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio.
A
A
A

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada Senin bahwa Iran tidak akan memungut biaya bagi kapal yang melewati jalur air vital tersebut, namun menambahkan bahwa "wajar jika ada biaya atas layanan yang diberikan". Sebagai catatan, sebelum konflik pecah, selat tersebut dilalui oleh seperlima dari total pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global.

Kedua belah pihak saat ini masih berselisih mengenai beberapa isu krusial, seperti ambisi nuklir Iran, perang Israel di Lebanon melawan milisi Hizbullah yang didukung Iran, serta tuntutan Teheran atas pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan puluhan miliar dolar pendapatan minyak Iran yang dibekukan di bank-bank asing.

Seorang pejabat senior pemerintahan Trump menguraikan apa yang menurutnya merupakan garis besar isu-isu yang sedang dinegosiasikan. Berbicara dengan syarat anonim, pejabat tersebut mengatakan Iran telah setuju "pada prinsipnya" untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat, serta bersedia membuang uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Teheran.

AS memahami bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memberikan dukungan terhadap kerangka kerja kesepakatan tersebut, tambahnya. Pejabat tersebut juga membantah anggapan bahwa Iran menolak pembuangan uranium diperkaya yang telah mereka timbun. "Ini hanya pertanyaan tentang bagaimana teknis caranya nanti," kata pejabat itu.

Seorang pejabat senior pemerintahan lainnya mengatakan pada Minggu bahwa kerangka kerja yang diusulkan akan memberikan waktu 60 hari bagi para negosiator untuk mencapai kesepakatan akhir. Sumber-sumber Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pada tahap selanjutnya, "rumus yang layak" dapat ditemukan untuk menyelesaikan perselisihan mengenai persediaan uranium tinggi tersebut, termasuk opsi pengenceran material di bawah pengawasan badan pengawas nuklir PBB (IAEA).

Iran sendiri telah lama membantah tuduhan AS dan Israel yang menyebut mereka sedang mengejar kepemilikan senjata nuklir. Teheran menegaskan mereka memiliki hak untuk memperkaya uranium untuk tujuan sipil, meskipun tingkat kemurnian yang telah mereka capai saat ini jauh melebihi kebutuhan untuk pembangkit listrik biasa.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement