“Ada beberapa pembangkit yang kemudian trip, lalu ada defense scheme (tindakan proteksi) kami yang bekerja sehingga sistem di sisi selatan kemudian normal. Tidak ada pemadaman di daerah Lampung dan sebagian besar daerah Palembang, tidak ada padam,” paparnya.
“Tetapi apa yang terjadi di daerah utara adalah di sana kekurangan dari pembangkit, frekuensinya rendah. Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit ada yang tidak tahan, kemudian trip, lalu terjadi domino effect,” sambung dia.
Domino effect itu terjadi karena PLN telah memisahkan dua jalur penyalur listrik antara timur dan barat. Setelah itu, proses perbaikan pun dilakukan dengan lebih dulu melihat data pada GITET (Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi) PLN terkait gangguan yang terjadi pada transmisi.
“Ketika sistem transmisi normal, maka berikutnya kami beralih ke sistem pembangkitan,” tuturnya.
Tercatat pembangkit di wilayah Sumatera terbagi menjadi tiga bagian besar. Pertama, diesel dan gas yang menyala sendiri karena ada bahan bakar dengan cakupan daya tahan lima jam. Kedua, PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap) dengan cakupan daya 15 jam.
“Nah, yang lama adalah pembangkit-pembangkit PLTU. Pembangkit-pembangkit PLTU kami yang juga tersebar ada di Sumatera Utara, kemudian ada juga di Jambi, Sumatera Selatan, kemudian yang ada di Aceh. Sifatnya pembangkit-pembangkit ini menyalanya 20 sampai 30 jam kemudian,” tuturnya.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.