JAKARTA – Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur resmi ditutup, Namun sebelumnya sempat terjadi kericuhan.
Sejumlah peserta terlibat aksi saling dorong, dipicu kesalahpahaman akibat ketok palu pimpinan sidang yang langsung memutuskan Muktamar, pada Agustus nanti digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri.
Perdebatan dalam forum berkembang menjadi adu argumentasi. Suasana yang memanas memicu aksi saling dorong antarpeserta. Mereka pun langsung diamankan oleh petugas keamanan yang bertugas mengawal jalannya sidang.
“Salah satunya terlihat saat sidang pleno III konbes dan munas NU di Ploso. Bagaimana mereka bermanuver dihadapan para masyayikh NU dan sesepuh pesantren. Tanpa adab dan unggah-ungguh santri, mereka meluapkan pikiran dan sikap emosional,” kata Pengasuh PP Sembilangan, Bangkalan, Madura, Kiai Muhammad Shofwan Taj, Rabu (24/6/2026).
Lora Shofwan – panggilan akrabnya –menilai fenomena selama konbes dan munas menjadi cermin pragmatisme dan kapitalis pada struktur dan kader organisasi.
Pasalnya, kehadiran masyayikh NU dan sesepuh pesantren tidak lagi dipertimbangkan dan dijadikan kompas moral berjam’iyyah.
Lora Shofwan melanjutkan, dinamika pelaksanaan Konbes dan Munas NU di Ploso Kediri kemarin, telah membuka tabir yang sesungguhnya tentang NU.
“Kalau sudah seperti ini, Hadratussyeikh Kiai M. Hasyim Asy’ari telah mengingatkan dalam fatwanya dikitab ‘tanbih an-nahdliyyin’ karya KH Imam Zarkasyi Junaidi, Banyuwangi tentang kerusakan bila pragmatisme meluas,” tutup Lora Shofwan.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.