JAKARTA - Isu dugaan pesugihan di tempat ziarah Gunung Kawi yang menjadi viral dan bahan perbincangan turut mendapat perhatian dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Dia pun angkat bicara terkait isu pesugihan Gunung Kawi yang sempat menyeret nama artis Tanah Air ini.
Fadli mengatakan bahwa Gunung Kawi merupakan bagian dari keberagaman tradisi dan budaya lama yang sudah turun-temurun dilakukan. Gunung Kawi sendiri menjadi sebuah destinasi wisata budaya dan religi di mana banyak didatangi oleh para peziarah untuk berdoa dan mengungkapkan rasa syukur.
“Gunung Kawi, ya? Ya, itu kan kita, keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi. Di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama. Kita ini masyarakat yang pendekatannya beragam,” kata Fadli, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, adanya destinasi wisata budaya dan religi di Gunung Kawi masih dianggap baik selama memberikan kebaikan dan menyokong ekonomi bagi masyarakat. Terlebih jika memang para pengunjung tidak mengganggu dan merusak berbagai fasilitas atau destinasi yang ada di sana.
“Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat dan tidak mengganggu, tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai bagian dari realitas kehidupan kita,” pungkas dia.
Sementara itu, pihak pengelola wisata religi Gunung Kawi sendiri telah membantah anggapan bahwa Gunung Kawi merupakan tempat pesugihan. Hal itu disampaikan melalui unggahan resmi di akun Instagram @gunungkawistory.
Dalam unggahan itu, pengelola menegaskan bahwa Gunung Kawi sejak dulu dikenal sebagai tempat berziarah dan banyak orang datang untuk berdoa serta mengungkapkan rasa syukur. Bahkan, adanya wisata tersebut juga memberikan dampak ekonomi positif terhadap masyarakat dan para pedagang di sana.
“Sejak puluhan tahun lalu, Gunung Kawi di Kabupaten Malang menjadi tujuan orang-orang untuk berdoa, berziarah, dan bersyukur. Jauh sebelum internet mengenalinya dengan berbagai cerita sensasi, Gunung Kawi telah lebih dulu dikenal sebagai tempat ziarah, wisata ritual, dan ruang perjumpaan berbagai budaya,” tulis pengelola dalam keterangan tersebut.
Selain menjadi tempat ibadah dan ziarah, Gunung Kawi juga banyak menyimpan nilai budaya dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Maka dari itu, pengelola sangat menyayangkan adanya anggapan pesugihan yang membuat citra kawasan tersebut perlahan berubah.
“Bagi kami, Gunung Kawi bukanlah kisah yang dibuat-buat. Gunung Kawi adalah rumah. Di era ketika video berdurasi satu menit mampu membentuk opini jutaan orang, wajah Gunung Kawi perlahan bergeser. Konten yang mengejar sensasi lebih mudah menarik perhatian dibanding sejarah yang panjang. Cerita yang menakutkan lebih cepat viral daripada kisah tentang budaya, toleransi, dan penghormatan kepada leluhur,” tambah pihak pengelola.
Lebih lanjut, pihak pengelola juga menganggap bahwa dugaan pesugihan terhadap wisata Gunung Kawi terlalu berat. Sebab, mereka serta masyarakat di sekitar sana tidak pernah dibesarkan dengan budaya dan narasi seperti itu. Justru sisi kebudayaan, tradisi, dan warisan leluhur menjadi satu hal yang dijaga di wisata Gunung Kawi.
“Lalu muncul satu anggapan yang terus diulang: ‘Gunung Kawi adalah tempat pesugihan’. Sebagai masyarakat yang lahir dan besar di sini, kalimat itu selalu terasa berat. Bukan karena kami menutup mata bahwa mungkin ada orang-orang dari luar yang memanfaatkan nama Gunung Kawi untuk kepentingan tertentu. Namun karena tempat yang kami kenal sejak kecil tidak pernah dibangun di atas nilai tersebut,” tegas pihak pengelola.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.