JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memiliki ribuan koleksi buku yang memenuhi perpustakaan pribadinya di Hambalang, Jawa Barat. Bahkan, koleksi buku yang dimiliki Prabowo mulai dari sejarah perang, filsafat, politik, ekonomi, hingga kuliner dunia.
Deretan buku itu disebut menjadi sumber inspirasi lahirnya berbagai gagasan dan pengambilan keputusan Prabowo sebagai Presiden. Ribuan koleksi buku yang berada di perpustakaan pribadi Prabowo itu dibagikan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Senin (13/7/2026).
"Ada banyak cara mengenal seorang pemimpin. Sebagian melihat pidato dan kebijakannya. Namun, ada cara yang sering lebih dalam dan bermakna: melihat dan membaca buku-buku yang ia baca," kata Dirgayuza.
Dirgayuza mengungkapkan di Hambalang berdiri perpustakaan pribadi Prabowo yang terdiri atas dua lantai. Di ruangan inilah Prabowo bekerja, menerima tamu negara, berdiskusi dengan para menteri, membaca, menyusun gagasan, hingga makan siang dan malam. "Perpustakaan ini menjadi kantor, ruang rapat, sekaligus pusat intelektual kediamannya yang ia sebut Padepokan Garuda Yaksa," ujarnya.
Dirgayuza juga menceritakan kecintaan Prabowo terhadap buku telah terlihat nyata sejak 1968, ketika bersekolah di American School in London. Walau ia satu-satunya murid berkulit cokelat, ia dipercaya menjadi ketua tim debat, kapten tim sepak bola, dan editor majalah dinding—cerminan kemampuan berpikir, memimpin, dan berkomunikasi yang terus berkembang hingga kini.
Koleksi Prabowo membentang seperti peta peradaban dunia. Dari Ghost Empire, SPQR, The Fall of the Ottomans, hingga sejarah Indonesia seperti Java in a Time of Revolution, The Indonesia Reader, dan A History of Modern Indonesia. Rak-rak lain dipenuhi karya tentang Perang Dunia, filsafat, politik, ekonomi, biologi, hingga kuliner dunia.
Di sini, Napoleon seolah berdialog dengan Sun Tzu, Plato dengan Ibn Khaldun, Barbara Tuchman dengan Anthony Reid, dan Anthony Bourdain dengan Siddhartha Mukherjee. Dirgayuza pun mengatakan perpustakaan ini bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang tempat berbagai zaman saling berbicara.
"Bagi seorang pembaca, buku bukan pajangan. Buku adalah lawan bicara. Dan mungkin, sebagian jejak keputusan-keputusan penting Presiden Prabowo bermula dari ruangan sunyi di Hambalang ini—sebuah perpustakaan yang menjadi pusat lahirnya gagasan seorang Problem Solver in Chief bangsa Indonesia," pungkasnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.