Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Fenomena Bediding, BMKG Catat Suhu Dingin di Dieng Capai 0,7 Derajat Celsius

Binti Mufarida , Jurnalis-Sabtu, 18 Juli 2026 |10:14 WIB
Fenomena Bediding, BMKG Catat Suhu Dingin di Dieng Capai 0,7 Derajat Celsius
Fenomena embus es di Dieng beberapa waktu silam (Foto: Ilustrasi/Dok Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Memasuki puncak musim kemarau, masyarakat di sejumlah wilayah Pulau Jawa kembali merasakan udara malam hingga dini hari yang jauh lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini dikenal sebagai bediding, yakni kondisi penurunan suhu udara yang umum terjadi saat musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan masyarakat di Pulau Jawa telah lama mengenal fenomena tersebut. Menurut BMKG, penyebab utama bediding adalah angin muson timur atau musim Australia yang membawa massa udara kering ke Indonesia.

“Dalang utamanya adalah musim Australia. Angin musim yang kering ini menyapu uap air dan mengurangi pembentukan awan di langit kita,” ungkap BMKG melalui akun media sosial Instagram resminya, Sabtu (18/7/2026).

BMKG menjelaskan, minimnya tutupan awan membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke angkasa pada malam hari. Kondisi tersebut menyebabkan suhu minimum turun drastis, terutama menjelang pagi.

Berdasarkan data BMKG selama 10 tahun terakhir, penurunan suhu mulai terasa pada Juli dan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga Agustus.

“Sebagai contoh, Kabupaten Malang, suhunya bisa drop hingga di bawah 19,5 derajat celcius, jauh lebih dingin dibandingkan Jakarta yang relatif stabil hangat,” ujarnya.

Selain dipengaruhi musim kemarau, kondisi geografis juga berperan dalam memperkuat penurunan suhu. BMKG menyebut topografi dan elevasi wilayah dataran tinggi mampu mengunci udara dingin.

Temuan tersebut diperkuat oleh data Land Surface Temperature malam hari dari sensor MODIS satelit cuaca yang menunjukkan terbentuknya zona-zona dingin di sepanjang deretan pegunungan di Pulau Jawa.

“Saking dinginnya fenomena bediding ini, di daerah dataran tinggi seperti Gunung Bromo, air embun yang menempel di daun bisa membeku jadi kristal es, mirip hamparan salju,” papar BMKG.

Fenomena tersebut dikenal masyarakat sebagai embun upas, yakni embun yang membeku akibat suhu udara yang sangat rendah. “Ini yang sering kita sebut sebagai embun upas. Data AWS BMKG mencatat, suhu di Bromo menyentuh angka 3,9 derajat Celcius pada tanggal 11 Juni kemarin. Dieng juaranya, suhunya hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat celcius,” pungkasnya.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement