Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Sepakati Pakta Pertahanan Makkah, Bentuk Aliansi Mirip NATO

Rahman Asmardika , Jurnalis-Sabtu, 08 Agustus 2026 |14:49 WIB
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Sepakati Pakta Pertahanan Makkah, Bentuk Aliansi Mirip NATO
Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi menyepakati perjanjian kerja sama pertahanan Pakta Pertahanan Makkah.
A
A
A

RIYADH – Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi menandatangani perjanjian pertahanan bersama di Makkah pada Jumat (7/8/2026), yang menyatukan ketiga negara Muslim Sunni sekutu Amerika Serikat (AS) itu ke dalam sebuah aliansi yang mirip dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Perjanjian ini dilakukan di tengah meningkatnya konflik regional, termasuk serangan rudal Iran terhadap negara-negara yang menampung pangkalan AS.

Iran dan sekutunya telah melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya, serta memblokade pengiriman energi mereka, sejak AS dan Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari—sebuah eskalasi besar menyusul pergolakan regional yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

"Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah" bertujuan memperkuat daya tangkal kolektif terhadap segala bentuk agresi dan menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga pihak tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya, demikian dinyatakan ketiga negara dalam pernyataan bersama, sebagaimana dilansir Reuters.

Pakta ini memiliki kemiripan dengan Pasal 5 NATO yang mengatur pertahanan kolektif. 

Namun, pernyataan tersebut tidak merinci komitmen yang disepakati oleh masing-masing pihak, dan tidak jelas sejauh mana kesepakatan itu akan mengikat mereka pada tindakan militer tertentu dalam upaya saling membela.

Wakil Presiden Turki Cevdet Yilmaz menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak ditujukan terhadap negara tertentu. Seorang pejabat Turki menambahkan bahwa kesepakatan itu murni bersifat defensif dan tidak membatalkan perjanjian apa pun yang telah dimiliki negara-negara tersebut dengan pihak lain.

 

Ketiga negara memiliki kekhawatiran yang sama mengenai sikap militer yang semakin agresif dari Israel maupun Iran di kawasan.

Ketiga negara ini merupakan negara-negara mayoritas Muslim yang berpengaruh di kawasan dan secara global. Turki memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO. Arab Saudi merupakan tempat bagi situs-situs paling suci dalam Islam dan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia, sementara Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir.

Namun, Rayed Krimly, Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi, menyatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa kesepakatan tersebut tidak mencerminkan upaya untuk membentuk poros militer ataupun blok sektarian.

"Kesepakatan ini juga tidak terkait dengan ambisi nuklir maupun perlombaan senjata apa pun," ujarnya.

Meskipun Pakistan menyepakati pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi tahun lalu, negara itu tidak menanggapi serangan Iran terhadap kerajaan tersebut secara militer. Pakistan juga menepis anggapan bahwa kemampuan penangkal nuklirnya dapat diperluas untuk mencakup sekutu; terkait pakta dengan Arab Saudi, mereka menyatakan tahun lalu bahwa senjata nuklir "tidak masuk dalam agenda".

Baik Pakistan maupun Turki juga telah menyatakan dukungan terhadap koalisi pertahanan maritim yang diumumkan oleh Arab Saudi untuk melindungi jalur pelayaran dan energi di kawasan tersebut.

 

Kesepakatan yang dicapai pada Jumat itu ditandatangani di Makkah oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, menyusul negosiasi yang berlangsung selama hampir satu tahun.

Pakistan telah memberikan pelatihan dan bantuan teknis kepada pasukan Saudi selama beberapa dekade, sementara Turki dan Pakistan telah saling menukar kapal perang dan pesawat latih. Arab Saudi merupakan pembeli utama pesawat nirawak (drone) dari Turki.

Pakistan telah mengerahkan sekitar 8.000 personel pasukan, jet tempur, pesawat nirawak, dan sistem pertahanan udara ke kerajaan tersebut, serta memulai negosiasi dengan Kuwait untuk menyediakan layanan keamanan sebagai imbalan atas kerja sama energi dan investasi.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement