KATHMANDU - Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah menyebut banjir dan tanah longsor yang melanda Nepal serta Tibet sebagai bencana alam yang "tak terbayangkan dan sangat menyayat hati".
Shah mengatakan, pihak berwenang masih kesulitan menilai skala kerusakan secara keseluruhan akibat bencana tersebut. Banjir dan longsor dilaporkan telah menyebabkan sedikitnya 900 orang tewas, sementara hampir 5.000 lainnya masih dinyatakan hilang.
Gelombang besar es, bebatuan, lumpur, dan puing-puing menerjang desa-desa serta kota-kota pada Rabu. Bencana tersebut berdampak pada wilayah Nepal dan Tibet, termasuk kawasan di seberang perbatasan China.
Jumlah korban hilang terus bertambah. Sejumlah jenazah yang belum teridentifikasi bahkan telah dimakamkan di kuburan massal setelah proses pengambilan sampel DNA dilakukan.
Memasuki hari keenam, tim penyelamat pada Senin masih berupaya menembus lumpur dan puing-puing untuk mencari korban serta warga yang masih hilang.
"Negara kita sedang menghadapi bencana alam yang tak terbayangkan dan sangat menyayat hati," kata Shah dalam unggahan di media sosial, dilansir dari trtworld, Selasa (1/9/2026).
"Banjir dahsyat di Sungai Bhote Koshi di Rasuwa telah membuat pengumpulan data lengkap mengenai kerugian jiwa, harta benda, dan infrastruktur menjadi sangat sulit," lanjutnya.
Shah menambahkan, proses pendataan dan penanganan bencana masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari cuaca buruk, medan yang sulit, hingga risiko yang terus mengancam keselamatan tim di lapangan.
"Meskipun tugas ini tetap menantang karena cuaca buruk, medan yang sulit, dan risiko yang terus berlanjut, kami terus maju dengan tekad untuk melindungi nyawa warga," ujarnya.
Balendra Shah, politikus berusia 36 tahun yang sebelumnya dikenal sebagai rapper dengan nama "Balen", kini menghadapi tantangan besar untuk memulihkan kehidupan masyarakat serta membangun kembali infrastruktur penting yang rusak akibat bencana.
Di sisi lain, perekonomian Nepal sudah berada dalam tekanan dengan sumber daya yang terbatas untuk menghadapi bencana dalam skala besar tersebut.
Bencana ini terjadi menjelang peringatan demonstrasi anti-korupsi massal pada 8-9 September tahun lalu yang berujung pada tumbangnya pemerintahan sebelumnya.
Partai yang dipimpin Shah kemudian meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum pada Maret di tengah gelombang dukungan masyarakat yang menginginkan perubahan.
"Kita akan berhasil mengatasi krisis ini melalui persatuan dan upaya bersama," pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.