Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pesan Menag Nasaruddin di MTQ Nasional: Jangan Ngaku Dekat Alquran tapi Korupsi!

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Minggu, 13 September 2026 |20:21 WIB
Pesan Menag Nasaruddin di MTQ Nasional: Jangan Ngaku Dekat Alquran tapi Korupsi!
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar
A
A
A

JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar, menegaskan, bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang, memiliki makna sosial dan kebangsaan yang sangat besar.  Nasaruddin mengatakan, MTQ sebagai pesta rakyat yang paling besar di seluruh Indonesia.

“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Menag Nasaruddin dikutip, Minggu (13/9/2026).

Kegiatan ini kata dia juga menghadirkan pesan inklusivitas melalui cabang ekshibisi Alquran bagi para penyandang disabilitas sensorik tuli dan pemanfaatan mushaf Alquran isyarat.

“Ini menegaskan bahwa Alquran adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Alquran karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” ujarnya.

Dia berharap, MTQ mampu menjadi momentum untuk menyambungkan kembali bacaan dengan tindakan, hafalan dengan pengamalan, serta pengetahuan dengan keteladanan.

‘’Alquran diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan ditadaburi pesan-pesannya. Alquran membumi untuk melangitkan kembali manusia. Alquran datang sebagai undangan sekaligus tiket untuk kembali ke kampung halaman rohani kita di masa akan datang,’’ujarnya.

Nilai-nilai Alquran, kata Nasaruddin, perlu hadir dalam berbagai ruang kehidupan. Dalam keluarga, nilai tersebut antara lain tercermin melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati.

‘’Dalam lingkungan kerja, nilai Qurani dapat diwujudkan melalui amanah, kedisiplinan, profesionalisme, dan pelayanan yang adil,’’ ujarnya.

 

Dia juga mengingatkan, agar kedekatan dengan Alquran tercermin dalam integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan kewenangan. Ia menekankan pentingnya menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta menjaga kepercayaan masyarakat.

Di tengah masyarakat, lanjutnya, nilai Alquran juga dapat diwujudkan melalui sikap saling mengenal, saling menolong dalam kebaikan, serta memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Sikap tersebut, menurutnya, penting untuk mencegah fitnah, hoaks, ujaran kebencian, dan tindakan yang dapat merusak kehormatan serta persaudaraan.

Sementara dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Menag menekankan pentingnya keadilan, persatuan, perlindungan terhadap kelompok yang lemah, penghormatan terhadap kemajemukan, dan kepentingan bersama.

“Semakin dekat seseorang kepada Alquran, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” katanya.

“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai momentum untuk berhijrah. Semoga Allah Ta’ala meridai seluruh ikhtiar kita dan menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya yang menuntun bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, maju, adil sejahtera, dan berkeadaban,” ujarnya.

Sementara untuk mendukung pelaksanaan kompetisi, Menag telah mengukuhkan tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim. Seluruh perlombaan dilaksanakan secara serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang, ditambah satu titik registrasi kafilah.

Menag mengajak seluruh peserta mengikuti musabaqah dengan sungguh-sungguh, jujur, dan menjunjung sportivitas.

 

Kepada dewan hakim dan perangkat penyelenggara, ia berpesan agar menjaga marwah MTQ melalui penilaian yang objektif, profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam pembukaan MTQ Nasional ke-31 di Semarang, Menag juga mengumumkan bahwa MTQ akan digelar setiap tahun. Selama ini, MTQ berlangsung dua tahun sekali, karena bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).

“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” pungkasnya.


Acara tersebut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i, para gubernur, wakil gubernur, serta para Kepala Kanwil Kemenag Provinsi dari berbagai daerah di Indonesia. Hadir juga ribuan pengunjung dari berbagai daerah yang memadati lapangan Pancasila.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement