Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Adopsi Laporan Hubungan UE-China, Parlemen Eropa Soroti Isu Uighur dan HAM

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 19 Oktober 2026 |14:11 WIB
Adopsi Laporan Hubungan UE-China, Parlemen Eropa Soroti Isu Uighur dan HAM
Ilustrasi.
A
A
A

Mengenai perang Rusia-Ukraina, laporan tersebut secara eksplisit mengidentifikasi Beijing sebagai “pihak yang berperan penting” dalam perang agresi Rusia. Pernyataan tersebut mengecam peran Tiongkok sebagai pemasok teknologi, komponen, dan peralatan berteknologi tinggi yang dapat digunakan ganda ke Rusia, dan menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan terverifikasi bahwa militer Tiongkok telah melatih personel militer Rusia untuk berperang di Ukraina.

Di Selat Taiwan, laporan tersebut menentang perubahan sepihak terhadap status quo melalui kekerasan atau paksaan dan merekomendasikan koordinasi keamanan yang lebih erat dengan mitra demokratis di kawasan, termasuk kehadiran angkatan laut yang berkelanjutan dan latihan bersama.

Di bidang pengurangan risiko ekonomi, laporan tersebut menggambarkan industri kendaraan listrik China sebagai ancaman serius, baik secara ekonomi maupun keamanan, dan menyerukan Eropa untuk mengurangi ketergantungan strategisnya pada Tiongkok di berbagai sektor termasuk bahan baku penting, obat-obatan penting, dan semikonduktor.

“Mayoritas suara hari ini menandai titik balik dalam kebijakan Eropa terhadap China,” kata pelapor dan penulis laporan tersebut, Hilde Vautmans, sebagaimana dilansir Bitter Winter, Senin (19/10/2026).

Namun, ada satu masalah krusial dan mendesak yang menuntut perenungan serius. Para pembuat kebijakan di Eropa tidak boleh menganggap kewajiban moral dan hati nurani mereka telah terpenuhi hanya dengan mengesahkan resolusi serta mengeluarkan pernyataan yang minim pelaksanaan praktis. Resolusi yang sekadar menjadi kata-kata tanpa tindakan nyata justru akan semakin memperkuat ambisi agresif Beijing, sehingga menciptakan ancaman yang jauh lebih besar bagi dunia. Meskipun rekomendasi ini tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, ia menyediakan kerangka politik yang kuat bagi Komisi Eropa dan negara-negara anggota Uni Eropa.

Secara historis, China—saat masih lemah secara ekonomi dan militer—tampak lebih terbuka terhadap seruan internasional dan mengadopsi sikap diplomatik yang lebih lunak. Kelalaian pihak Barat selama bertahun-tahun, ditambah dengan sikap yang lebih mengutamakan kepentingan perdagangan jangka pendek daripada prinsip-prinsip dasar, telah membiarkan China tumbuh menjadi negara adidaya global. Saat ini, Tiongkok mengancam kelompok-kelompok yang berada di bawah pendudukannya—seperti orang Uighur, Tibet, Mongol Selatan, Kanton, dan penduduk Hong Kong—serta menjadi bahaya serius bagi tatanan demokrasi global maupun keamanan Eropa.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement