Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Akar Konflik Antara Saudi dan Houthi Pada Perang Yaman

Opini , Jurnalis-Senin, 19 Oktober 2026 |17:54 WIB
Akar Konflik Antara Saudi dan Houthi Pada Perang Yaman
Ridwan Al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia dan Direktur COMPOSE.
A
A
A

Penulis: Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.

ESKALASI konflik yang meninggi pada Oktober 2026 antara Houthi dan Arab Saudi dalam perang Yaman semakin mengkhawatirkan karena hancurnya infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil. Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang menjadi akar konflik dari perang Yaman tersebut? Tulisan ini akan mengulik persoalan tersebut secara singkat.

Yaman adalah sebuah potret tragis dari suatu negara ketika kegagalan politik berubah menjadi malapetaka kemanusiaan. Terletak di persimpangan Laut Merah dan Teluk Aden, perang Yaman bukan lagi sekadar pertarungan senjata antara Arab Saudi dan kelompok Houthi. Ia merupakan akumulasi persoalan sejarah, ketimpangan sosial, perebutan kekuasaan, dan rivalitas geopolitik yang selama bertahun-tahun tidak menemukan jalan keluar.

Perang Yaman, memang, bukan sekadar pertarungan Sunni-Syiah atau persaingan Arab Saudi dan Iran, melainkan berakar pada kegagalan transisi politik, ketimpangan kekuasaan, perebutan legitimasi, dan intervensi regional yang mengubah krisis domestik menjadi perang berkepanjangan.

Akar persoalan Yaman, sejatinya, dapat ditelusuri jauh sebelum serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi yang bermula pada Maret 2015. Penyatuan Yaman Utara dan Yaman Selatan pada 1990 memang sukses melahirkan satu negara, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan ketegangan historis, ketimpangan pembangunan, dan persaingan elite politik.

Di bawah Presiden Ali Abdullah Saleh, yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade, stabilitas politik banyak bergantung pada jaringan patronase, loyalitas elite, dan kompromi dengan berbagai kelompok bersenjata. Model pemerintahan ini memang mampu mempertahankan kekuasaan, tetapi gagal membangun institusi negara yang inklusif dan dipercaya masyarakat.

Ketika gelombang Arab Spring melanda kawasan Timur Tengah pada 2011, Yaman turut mengalami demonstrasi besar yang menuntut perubahan politik. Saleh akhirnya menyerahkan kekuasaan pada 2012 kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansur Hadi, melalui proses transisi yang difasilitasi negara-negara Teluk dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

 

Kegagalan proses transisi dan meningkatnya pertentangan antarkelompok turut mendorong eskalasi kekerasan pada 2014. Dengan kata lain, perang tidak lahir dalam ruang kosong sejarah. Ia tumbuh dari negara yang gagal mengelola konflik politik melalui institusi demokratis.

Gerakan Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, berasal dari wilayah Saada di Yaman utara. Gerakan ini tumbuh dari lingkungan komunitas Zaidiyah, cabang Syiah yang memiliki tradisi keagamaan dan sejarah politik tersendiri di Yaman. Pada awal perkembangannya, gerakan tersebut menentang apa yang dipandang sebagai marginalisasi politik dan sosial masyarakat di wilayah utara. Ketegangan dengan pemerintahan Saleh berkembang menjadi konflik bersenjata sejak 2004.

Momentum penentu terjadi pada September 2014 ketika Houthi menguasai ibu kota, Sana'a. Pada mulanya, gerakan ini memanfaatkan ketidakpuasan terhadap pemerintah, termasuk persoalan harga bahan bakar dan tuntutan perubahan politik. Mereka kemudian membangun aliansi taktis dengan Saleh, mantan presiden yang sebelumnya menjadi musuh mereka.

Bagi Riyadh, kebangkitan Houthi bukan hanya masalah internal Yaman. Yaman berbatasan langsung dengan Arab Saudi, sehingga perubahan keseimbangan kekuasaan di Sana'a memiliki implikasi langsung bagi keamanan kerajaan tersebut.

Pada 26 Maret 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan intervensi militer untuk mendukung pemerintahan Hadi yang diakui secara internasional. Riyadh menyatakan bahwa intervensi militer diperlukan untuk memulihkan pemerintahan yang sah dan mencegah kelompok bersenjata menguasai negara tetangga.

Akan tetapi, kalkulasi keamanan Saudi juga berkaitan dengan meningkatnya pengaruh Iran di kawasan Teluk. Houthi memiliki hubungan politik dan dukungan militer yang berkembang dengan Teheran. Bagi Arab Saudi, hubungan itu memunculkan kekhawatiran bahwa rival regionalnya akan memperoleh pijakan strategis di perbatasan selatannya.

Meski demikian, menggambarkan Houthi semata-mata sebagai proksi Iran juga menyederhanakan persoalan. Gerakan tersebut mempunyai akar sosial, kepentingan domestik, struktur kepemimpinan, dan agenda politik sendiri. Dukungan Iran memperkuat kemampuan militernya, tetapi tidak menjelaskan seluruh alasan di balik kemunculan maupun keberlangsungan gerakan tersebut. Houthi memiliki derajat otonominya sendiri.

 

Sebaliknya, intervensi militer Saudi memperluas medan perang, apalagi jika dibantu Amerika Serikat dan Israel. Persaingan yang semula berkaitan dengan legitimasi pemerintahan dan perebutan kekuasaan di Yaman berkembang menjadi bagian dari rivalitas regional. Serangan udara, blokade, serangan lintas perbatasan, dan dukungan kepada kelompok-kelompok bersenjata membuat konflik semakin sulit diselesaikan.

Perang Yaman menunjukkan pentingnya dimensi keamanan regional tersebut, termasuk hubungan antara perang domestik, dukungan eksternal, dan persaingan Saudi-Iran. Masalahnya, kekuatan militer yang unggul tidak selalu menghasilkan kemenangan politik. Bertahun-tahun intervensi tidak berhasil menghapus Houthi dari panggung politik maupun militer Yaman.

Dimensi geopolitik perang Yaman semakin rumit karena negara ini berada di sekitar Bab al-Mandab, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi perdagangan internasional, pasokan energi, dan biaya pengiriman barang. Posisi geografis ini membuat Yaman bukan sekadar persoalan domestik. Namun, perhatian dunia terhadap jalur perdagangan acap kali lebih besar daripada perhatian terhadap penderitaan masyarakatnya.

Pungkasannya, perang Yaman adalah pertarungan untuk memperebutkan pengaruh di kawasan, yang berkelindan dengan persoalan domestik, keamanan, dan kegagalan negara untuk mewujudkan kesejahteraan. Upaya penyelesaian melalui negosiasi diplomatik perlu diwujudkan dengan melibatkan pihak-pihak yang bertikai untuk mencari penyelesaian yang utuh demi pemulihan keamanan dan stabilitas di Yaman, Arab Saudi, serta di kawasan Teluk.

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement