GARUT - Galian pasir dan batu di kawasan kaki Gunung Guntur harus tutup, sebab jika terus dibiarkan akan mengancam terjadi bencana longsor seperti direkomendasikan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Kondisi rusak dan memprihatinkannya Gunung Guntur, membuat masyarakat perkampungan di sekitar lereng gunung tersebut dihantui perasaan khawatir dan ketakutan. Apalagi saat memasuki musim hujan, ancaman longsor menjadi hal yang sangat menakutkan.
"Untuk mengatasi kekhawatiran warga terhadap ancaman longsor dan banjir bandang dari Gunung Guntur, galian golongan C yang menggali pasir dan batu sudah kami minta tutup. Seperti direkomendasikan PVMBG," ungkap Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (SDAP) Kab Garut Uu Saepudin, Jumat (9/11/2007).
Menurutnya, penggalian pasir dan batu ilegal di kawasan kaki gunung berketinggian 2.249 meter di atas permukaan laut atau 1.550 meter di atas permukaan Sungai Cimanuk ini, hingga kini masih terjadi. Padahal, tahun 2006 lalu sudah ditutup oleh Bupati Garut.
"Penggali yang menggunakan alat berat memang sudah tidak ada, sekarang tinggal penggali yang menggunakan alat tradisional," sebut Uu.
Kegiatan penggalian pasir kata dia, telah berlangsung sejak sekitar tahun 1986 yang mulai cukup gencar dan kini banyak menyisakan bongkahan-bongkahan lubang termasuk kolam-kolam berkedalaman setinggi dua meter lebih, kemudian terpenuhi air hujan yang kerap menggenanginya sehingga cukup membahayakan.
"Bongkahan bekas penggalian di seluruh kawasan bagian lereng gunung yang sekarang banyak ditinggalkan para penggalinya karena dianggap tidak potensial. Mereka kemudian mencari lokasi baru secara acak," jelasnya.
Ditemui terpisah, Ketua Komisi B DPRD Garut Deden Sofyan mengungkapkan, penutupan galian C di Gunung Guntur sudah dilakukan berkali-kali. Tapi para penggali kembali melakukan aksinya.
"Itu karena tidak ada ketegasan dari pihak-pihak yang bertanggungjawab di kawasan Gunung Guntur. Jadi para penggali tidak pernah jera," ujarnya. Â
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Garut Bunyamin Saepudin mengatakan, selain penutupan galian C, pemerintah atau pihak terkait juga harus memerhatikan nasib para penggali pasca penutupan lahan galian.
"Dari data yang kami terima, penggali yang menggantungkan hidupnya di sana mencapai 2 ribu orang lebih. Pemerintah harus memerhatikan juga nasib mereka. Jangan sampai penutupan galian menjadikan mereka terpuruk dalam perekonomian. Yah, paling tidak para mantan penggali diarahkan untuk mendapat pekerjaan pengganti lah," tandasnya.
(Fetra Hariandja)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari