BULLYING atau tindak kekerasan remaja yang lebih senior terhadap yunior ternyata juga terjadi melalui media internet. Melalui kata-kata kebencian, e-mail ancaman, dan gosip di ruang maya, kepada para korbannya yang sebagian besar adalah remaja yang lebih muda atau yunior di sekolah.
"Internet bullying sangat berbahaya dan menjadi sebuah fenomena akibat dari kondisi sosial yang tak baik," kata Kirk Williams dan Nancy Guerra dari Universitas California, yang menerbitkan hasil penelitiannya ini di Journal of Adolescent Healt, Rabu (28/11/2007).
Bahkan tren internet bullying pada remaja berusia 10-17 tahun di Amerika Serikat (AS) sejak tahun 2000 sampai 2005 terus mengalami peningkatan. Berdasarkan laporan US Centers for Disease Control and Prevention, peningkatannya mencapai 50%. Pada tahun 2000 hanya ada 6% pada tahun 2005 naik menjadi 9%.
"Tindak kekerasan remaja melalui media online semakin meningkat setiap tahun. Itu terlihat dari meningkatnya laporan terjadinya aksi penangkapan, kekerasan, dan penculikan di sekolah setiap tahun," ujar Michele Ybarra dari Johns Hopkins University, Baltimore Ybarra menemukan 64% remaja mengaku sering menjadi korban internet bullying meskipun tak pernah mendapat serangan secara fisik atau verbal dalam kehidupan sehari-hari.
Itu berdasarkan interview yang dilakukannya terhadap 1.500 remaja yang berusia antara 10-15 tahun. "Masalah ini harus mendapat perhatian khusus, remaja yang menjadi korban kekerasan internet meningkat delapan kali," kata Ybarra.
Untuk mencegah kekerasan terhadap remaja di dunia maya butuh kerja sama yang kompak antara guru di sekolah dan orangtua di rumah.Tindak pencegahan pun harus bijaksana, jangan sampai melarang siswa menggunakan internet. Sebab,internet juga memiliki sisi positif untuk mendapatkan informasi yang menunjang pendidikan.
"Hal utama yang kami rekomendasikan adalah agar para orangtua sering berdialog dengan anak-anak. Orangtua harus memberikan pengertian agar dalam penggunaan internet harus memperhatikan tata krama dan sikap yang santun," ujar Corinne David-Ferdon dan Marci Feldman Hertz dari US Centers
Apalagi menurut Patricia Agatston dari Clemson University, South Carolina, kebanyakan remaja yang mendapat tindakan bullying melalui dunia maya jarang sekali mau menyampaikan kepada orangtua. Mereka melakukan hal itu karena khawatir akan kehilangan kebebasan menggunakan internet.
Hertz menyarankan agar sekolah pun mengambil langkah preventif untuk menekan efek dari internet bullying. Misalnya, bekerja sama dengan polisi agar kekerasan di dunia maya tak berlanjut dalam kehidupan seharihari.
Serta mengawasi perilaku penggunaan internet siswa-siswa di sekolah lebih ketat. Agar internet digunakan untuk kepentingan pendidikan dan masa depan mereka, bukan untuk sarana main-main atau mencari kesenangan pribadi.
"Teknologi banyak memberikan keuntungan bagi para remaja. Mereka bisa bersosialisasi dengan orang lain dan itu yang harus diawasi agar tidak disalahgunakan untuk mengancam orang lain,"papar Hertz Sekolah di AS yang menerapkan pengawasan secara terpadu dengan polisi untuk mencegah internet bullying antara lain sekolah-sekolah di Florida, South Carolina, Utah,dan Oregon.
(Kemas Irawan Nurrachman)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari