Sejak pecahnya Uni Soviet pada 1990, diskusi tentang tatanan dunia didominasi oleh enam skenario berikut.Francis Fukuyama meramalkan menguatnya kecenderungan demokratisasi,berbeda dengan John Mearsheimer yang lebih melihat terjadinya renaissanceperang antarnegara bertetangga.
Sementara Samuel Huntington (1996) memprediksi terjadinya konflik antarperadaban, khususnya antara Barat dan Islam.Di lain pihak,Paul Kennedy (2002) mewacanakan pencarian bentuk baru global governance sebagai dampak globalisasi. Selain itu, beberapa penulis seperti Robert Kagan,seusai Perang Irak 2003,menggambarkan terjadinya era panjang unilateralisme AS yang menjadi satusatunya negara adidaya saat ini. Namun, dalam semua skenario di atas, tak satu pun yang mempertimbangkan kebangkitan China dan (juga) India.
Saat ini,bobot ekonomi dua negara berpenduduk terbesar di dunia ini berpengaruh signifikan pada konstelasi kekuatan politik global. Dalam bukunya, Kaplinsky melihat China dan India bukan sekadar "emerging economies"melainkan "asian drivers of global change"(2006). Dalam waktu kurang dari satu dasawarsa, China telah berubah dari sebuah ekonomi pinggiran menjadi pemain utama pasar global.Porsi ekspornya ke AS pada kurun waktu 1985-2004 melejit dari "virtually nothing" menjadi sekitar 15%. Sementara kontribusinya pada permintaan dunia atas bahan dasar metal meningkat dari 5 (1990) menjadi 25% pada tahun lalu.
Akhir 2005, dalam hal cadangan devisa (USD819 miliar) dan volume ekspor (USD770 miliar), China masing-masing menduduki peringkat dua dan tiga dunia. Bersama AS dan Uni Eropa, China masuk dalam kelompok besar penghasil CO2, sehingga kebijakan energinya sangat memengaruhi perubahan cuaca global. Diperkirakan,pada 2020 India juga akan memiliki peran sama dengan China saat ini. Pada 2025,Washington, Beijing, dan Delhi diramal bakal menjadi pusat kekuasaan politik global. Pertanyaannya, apakah raksasa lama dan baru berhasil mewujudkan sistem multilateralisme yang efektif ataukah akan ada persaingan kekuasaan yang dipenuhi konflik dan instabilitas yang akan melemahkan kekuatan dan kemauan untuk menyelesaikan sisi gelap globalisasi seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, atau negara gagal?
Kebangkitan China dan India,memaksa kawasan dunia lainnya menyesuaikan diri. Industri China saat ini mempekerjakan 83 juta orang, hampir sama dengan jumlah pekerja industri di 14 negara Organization for Economic Co-Operation and development (OECD) terbesar. Sementara itu, sekitar 100 juta pekerja China lainnya memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk pasar dunia dan siap memasuki lapangan pekerja industri. Karena itu, bisa dipastikan dalam waktu dekat kemungkinan besar tidak ada kenaikan pesat tingkat gaji di China.
Dinamika pasar kerja di China ini dipastikan mempunyai dampak global, terlihat dari melejitnya ekspor China yang semakin "menekan" perusahaan AS dan Eropa. Bagi negara-negara berkembang, kebangkitan dua raksasa Asia ini bisa berpotensi positif maupun negatif. Sektor industri Amerika Selatan,misalnya, selain mengalami persaingan yang semakin ketat,juga boomingdalam ekspor produk pertanian dan bahan baku ke Asia. Beberapa negara Afrika juga mendulang keuntungan terkait meningkatnya permintaan BBM serta produk agraria dan pertambangan.
Pada saat yang sama, ekspor produk tekstil China membahayakan satu-satunya bidang industri yang relatif berhasil dikembangkan di Afrika. Bagi kita, China dan India berpotensi menjadi lokomotif pertumbuhan. Meski,sekaligus bisa menjadi pesaing utama bagi produk industri, seperti yang dirasakan sektor industri kecil dan menengah. Pada saat yang sama,dengan penawaran harga sangat bersaing,perusahaan-perusahaan China mendominasi (calon) pemenang tender pembangunan tenaga listrik di negeri ini.
Berkat cadangan devisa yang melimpah,China juga mampu memberikan pinjaman berbunga rendah (soft loan)-tanpa persyaratan terkait penegakan HAM, good governance,pengentasan kemiskinan, dan pelestarian lingkungan. Meski pada sisi lainnya, tanpa keharusan keterlibatan ekspatriat bergaji tinggi serta persyaratan, memberatkan keharusan membeli produk berharga mahal dari negeri Tirai Bambu ini.
Hal itu bisa menjadi alternatif pembiayaan pembangunan, "(Post-) Washington Concensus"berhadapan dengan "Beijing Concensus"( Ramo,2005). Bagi China, Indonesia sebagai negara berpenduduk besar dengan sumber daya alam yang (masih) cukup banyak serta berada dalam proses pembangunan kembali, sangatlah menarik. Kesempatan bagi kita, yang saat ini masih memiliki utang luar negeri cukup besar untuk melakukan negosiasi dengan China-sekaligus dengan kreditor lama-dalam mengupayakan sumber pembiayaan pembangunan yang menguntungkan.(*)
DR. IVAN A HADAR Koordinator Nasional untuk Target MDGs Bappenas/UNDP S
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.