Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perahu Penambang Pasir Dibakar Warga

Tritus Julan , Jurnalis-Minggu, 16 Maret 2008 |17:53 WIB
Perahu Penambang Pasir Dibakar Warga
A
A
A

JOMBANG - Sejumlah warga dari 13 desa di Kecamatan Megaluh hilang kesabaran. Mereka membakar perahu salah satu penambang pasir liar di Sungai Brantas.

Aksi anarkistis ini dipicu kemarahan warga atas penambangan pasir liar yang marak terjadi di sungai yang melintas di desanya itu. Warga khawatir jika wilayah mereka akan menuai imbas dari rusaknya ekosistem akibat ulah penambang.

Warga yang sebelumnya bersepakat untuk menghalau para penambang, sejak pagi sudah terlihat berkumpul di pinggiran sungai. Warga Desa Balongsari dan Turi Pinggir yang menjadi pelopor gerakan ini mulai menyisir kawasan sungai yang berpenghuni puluhan perahu dan mesin penyedot pasir (ponton) itu.

Warga awalnya hanya meminta kepada penambang untuk beralih tempat. Lantaran himbauan warga tak diindahkan, beberapa warga langsung emosi dan melempari perahu dan ponton dengan batu. Bahkan, salah satu dari warga memakai ketepel untuk mengusir para penambang yang sebelumnnya melakukan perlawanan.

Kontan, lemparan batu dan ketepel ini menjadi senjata yang jitu untuk mengusir penambang yang telah bertahun-tahun bercokol itu. Puluhan perahu dan awaknya terbirit-birit menghindari lemparan warga. Bahkan karena takut, salah satu perahu terpaksa ditinggalkan pemilik karena warga yang tak memberi ampun.

Salah satu perahu yang ditinggal pemiliknya ini lantas menjadi bulan-bulanan kemarahan warga. Dengan menggunakan bensin, salah satu warga langsung membakar perahu yang terbuat dari kayu itu. Tak puas dengan membakar, warga menenggelamkan perahu dengan menggunakan gergaji mesin dan mematahkan badan perahu. Satu perahu bermuatan pasir inipun tenggelam diiringi kegembiraan warga.

Danu, salah satu warga Desa Megaluh mengatakan, aksi kali ini menjadi puncak kemarahan warga. Pasalnya, aksi serupa juga pernah dilakukan beberapa kali, namun tak membuat para penambang pasir jera. ''Beberapa waktu lalu kami pernah menenggelamkan perahu mereka. Tapi hanya beberapa hari saja mereka berhenti berioperasi,'' kata Danu, Minggu (16/3/2008).

Dikatakan dia, ulah penambang pasir ini memang sejak lama meresahkan warga. Tak hanya siang hari, penambangan pasir ini juga dilakukan saat tengah malam. Sehingga dipastikan, kondisi sungai akan semakin membahayakan warga yang dilintasi. ''Mereka yang untung, kami yang kena imbasnya,'' tegasnya.

Ia berharap, pemerintah daerah setempat secepatnya merespon keluhan warga ini, dengan terus melakukan razia penambang pasir. Jika tidak lanjut dia, warga sendiri yang akan turun tangan dengan cara mereka sendiri. ''Saya yakin mereka akan takut dengan Satpol PP, jika upaya razia dilakukan bersar-besaran dan terus menerus,'' tebaknya.

Nila Retno Cahyani, Kepala Desa Balongsari mengatakan, sejak awal warganya memang meminta ijin dirinya untuk melakukan penghalauan sendiri. Warga, meneurut dia, sudah kehilangan kesabaran dengan ulah penambang yang terus-menerus mengeksploitasi sungai Brantas. Ia pun mengaku tak bisa menghalangi sikap warga yang marah. ''Karena warga merasa terancam dengan aktivitas penambangan ini,'' kata Nila sembari berharap, kondisi ini segera mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat.

(Fitra Iskandar)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement