SURABAYA - Hingga saat ini Indonesia masih kekurangan dokter umum dan dokter spesialis. Perbandingan jumlahnya adalah 1:40 ribu pasien, sementara di Vietnam jumlahnya lebih baik yaitu 1:5.000 pasien.
"Idealnya 1:4.000," ujar Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof dr Muhamad Amin dalam seminar memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional di Universitas Airlangga, Surabaya, Jumat (30/5/2008).
Menurutnya berdasarkan data dari depkes hingga 2010 lulusan dokter dan dokter spesialis hanya 17.000 orang padahal yang dibutuhkan sebanyak sebanyak 36 ribu orang.
"Hingga ada kekurangan lebih kurang 20 ribu dokter," katanya.
Rata-rata dalam setahun, dari 54 perguruan tinggi yang memiliki fakultas kedokteran di Indonesia, hanya meluluskan 1.000 dokter saja. Sedangkan yang dibutuhkan lebih besar dari 1.000 orang pertahunnya.
Hal itu terutama untuk didistribusikan di daerah-darah, untuk memacu jumlah lulusan dokter, Departemen Kesehatan bekerjasama dengan 54 perguruan tinggi yang memiliki fakultas kedokteran, untuk memberikan beasiswa bagi putera-putera daerah yang ingin menjadi dokter dengan catatan setelah lulus mereka harus mengabdi di daerah masing-masing.
Universitas Airlangga, menurut Muhamad Amin, juga mengalokasikan beasiswa bagi putera-putera daerah untuk menjadi dokter dengan syarat mereka mau kembali ke daerah masing-masing setelah lulus.
Menyinggung mengenai kebutuhan tenaga spesialis di Indonesia, Amin mengatakan ada empat dokter spesialis yang sangat dibutuhkan saat ini yaitu, spesialis bedah, anastesi, penyakit dalam dan obgin atau kebidanan.
(Tumpal Sulaiman/Trijaya/fit)