JOMBANG - Berakhir sudah drama kasus salah tangkap terhadap Kemat dkk. Polisi telah â€~menghargai' mereka dengan Rp50juta sebagai pengakuan kesalahan atas penetapan tersangka dalam kasus pembunuhan Asrori kebun tebu.
Jarum jam menujukan pukul 11.00 WIB. Di salah satu rumah makan di Kota Jombang, Imam Hambali alias Kemat, Maman Sugianto, Siti Rochanah (ibu kandung Devid Eko Priyanto) dan beberapa anggota keluarga tampak tegang menunggu kedatangan Kabag Humas Polda Jatim, yang rencananya akan menyerahkan bantuan terhadap tiga korban salah tangkap itu.
Sesekali, Kemat melihat jarum jam yang ada di dinding rumah makan Rindang Asri. Pikirannya mulai bergelayut, saat tamu yang dianggapnya sebagai "dewa" penolong itu tak juga muncul. Padahal sesuai janji polisi, Kabag Humas Polda Jatim akan tiba di rumah makan tepat pukul 11.00 WIB.
"Katanya, jam sebelas kami sudah harus berada di rumah makan. Tapi jam segini belum juga muncul," kata Kemat, sekira pukul 11.30 WIB di Jombang, Jawa Timur, Kamis (22/1/2009).
Dalam penantian itu, Kemat dan Maman tampak menghibur diri. Sesekali, ia bersenda gurau dan menceritakan pengalamannya setelah bebas dari jeruji besi beberapa waktu lalu. Kemat, tetap memilih menjadi perias di salon kecantikan miliknya, sementara Maman mengaku masih bingung lantaran sejauh ini belum memilki pekerjaan tetap.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil dinas polisi memasuki halaman ruah makan. Kemat, Maman, dan beberapa anggota keluarganya yang ikut mengantar segera beranjak dari tempat duduknya dan menyambut tamu yang dinanti-nanti, Kombes Pol Pudji Astuti, Kabag Humas Polda Jatim.
Tak banyak bicara, Pudji Astuti lantas menyampaikan niat kedatangannya kepada Kemat dkk. Tiga amplop warna coklat beserta selembar kuitansi pun disodorkan. "Ini bantuan dari Polda Jatim. Untuk Kemat dan Devid, kita beri bantuan sebesar masing-masing Rp20juta. Sementara untuk Maman, Rp10juta," tukas Pudji.
Sejenak suasana menjadi hening. Harga sebuah kesalahan fatal polisi, hanya bernilai puluhan juta rupiah. Sementara derita yang mereka tanggung bertiga di luar dan di dalam penjara, tak bisa diukur dengan uang. Tangan kasar polisi yang menyidik, hingga beban psikologis yang ditanggung selama setahun lebih dalam penjara, hanya diselesaikan dengan lembaran uang.
Memang, bagi Kemat dkk, uang tak menjadi tujuan akhir dalam kasus yang menimpanya itu. Kebebasanlah yang menjadi prioritas mereka. Namun, tak dipungkiri saat ini, ketiga korban salah tangkap itu sedang mengalami persoalan ekonomi. Kemat yang bingung modal dan mengembalikan citra baiknya, Maman yang bingung belum mendapatkan kerja dan kesulitan memenuhi kebutuhan anak dan istrinya, serta Devid yang memilih pergi menuju Maluku dari kota kelahirannya yang membuahkan sial itu.
Kata lembut keluar dari mulut Kemat, sesaat setelah menerima uang kompensasi kesalahan polisi itu. "Yah, saya syukuri saja. Uang ini akan saya pakai untuk modal membeli perlengkapan salon. Berapapun akan saya terima," kata Kemat.
Pun demikian dengan Maman. Pria yang menikmati penjara terakhir kali di antara Kemat dan Devid itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Tak ada setitik pun rona kecewa dari wajahnya, meski dia menerima uang kompensasi separuh dibanding dua teman seperjuangannya itu. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Kapolda Jatim yang memberikan bantuan ini," ucap Maman lugu.
Tak berbeda dengan Kemat dan Maman. Siti Rochanah, yang mewakili anaknya, Devid Eko Priyanto juga seakan larut dengan uluran tangan polisi. Meski masih bingung menggunakan uang itu, Siti Rochanah tetap mengucapkan puji syukur. "Ini akan saya simpan untuk biaya nikah Devid nanti. Seminggu lalu, dia ikut bapaknya ke Maluku untuk bekerja," ungkap Siti Rochanah.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.