KEDIRI - Arif Wijaya, bocah berusia 15 tahun itu terlihat ketakutan begitu kakinya memasuki pelataran kantor Mapolwil Kediri.
Tatapan mata petugas polisi yang berdiri di pintu masuk membuat remaja yang duduk dibangku kelas dua SMP ini kerap membuang muka.
"Di mana tempat untuk melapor pak," tutur Arif  lirih memberanikan diri mendekat  kepada salah seorang petugas berpangkat Brigadir yang sejak awal mengawasinya. Oleh petugas, pertanyaan itu tidak segera dijawab. Dipandanginya bocah berkulit sawo matang bertubuh kerempeng itu.
Sekira lima menit Arif berdiri di tempatnya. Sebentar dia tertunduk sembari tersenyum kecut saat petugas mulai bertanya-tanya. Matanya yang masih sembab karena air mata itu mengikuti arah arah telunjuk petugas yang menunjuk ke arah ruangan. Arif pun bergegas menuju ruangan tersebut.
"Saat tidur, tiba-tiba saya diturunkan paksa oleh ibu tiri saya di perempatan lampu merah," tuturnya kepada Kasubbag Binamitra Polwil Kediri Komisaris Polisi Abdul Kholil yang langsung datang begitu menerima laporan adanya bocah kecil yang datang ke kantornya, Selasa (8/9/2009).
Dengan sedikit isakan, Arif menyebut nama Siti Hardiyanti (31), ibu tirinya yang telah memaksanya turun dari dalam mobil Daihatsu Xenia yang melintas di Jalan Wahid Hasyim, Bandar Kidul, Mojoroto Kota Kediri.
"Saya mencoba bertahan dengan memegang jok mobil. Tapi oleh mas (pria) Â yang bersama ibu saya, tangan saya dilepaskan. Ibu yang membukakan pintu mobil dan mendorong saya keluar," lanjutnya.
Arif tidak menyangka ibu tirinya yang dalam keseharian dia panggil dengan sebutan mama itu bakal tega membuangnya ke tengah jalan. Sebab, saat berangkat dari Surabaya, Siti Hardiyanti mengatakan hendak mengantar Arif ke rumah kerabat almarhum ayahnya bernama Haryanto yang beralamatkan di Jalan Palmerah, Karangsari RT 01/20, Kedung Jati, Jakarta Timur.
Lelaki yang bersama Hardiyanti dan ikut memaksa dirinya keluar dari mobil, menurut Arif, dia adalah pria idaman lain (PIL) ibunya. "Mungkin saya dianggap anak yang nakal. Karena beberapa hari sebelumnya mama sering marah ketika saya tidak segera memenuhi keinginanya," tandas Arif  yang menjadi piatu sejak kelas tiga SD ini.
Karena tidak mungkin kembali ke rumah kontrakan ibu tirinya di Surabaya, atau melanjutkan perjalanan ke Jakarta, Arif yang mengaku tidak mengantongi uang sepeser pun itu meminta petugas memberinya uang saku. Dia berencana pergi ke rumah Andri, kakaknya yang bertempat tinggal di Kutoarjo, Jawa Tengah.
"Kalau di sini (Kediri) saya tidak memiliki saudara. Kakak saya ada di Jawa Tengah. Biarlah saya ke sana saja," tukasnya nekat.
Oleh Kasubag Kasubbag Binamitra Polwil Kediri Komisaris Polisi Abdul Kholil,  Arif yang bersekolah di SMP Nihayatun II Wonokromo, Surabaya diantarkan ke stasiun kereta api Kediri. "Kita juga berikan santunan. Biarlah anak ini pergi ke rumah saudaranya seperti yang dia mau," ujarnya.
Mengenai kasus penelentaran (pembuangan) anak yang dilakukan ibu tiri dan kekasihnya, menurut Kholil, petugas akan berkoordinasi guna melakukan pengejaran. "Karena ini bukan delik aduan, maka kita akan usut kasus ini," pungkasnya.
(TB Ardi Januar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.