JAKARTA - Pelaku teroris kebanyakan masih memiliki hubungan keluarga satu sama lain. Seperti misalnya kakak beradik Syaifudin Zuhri, M Syahrir, Ibrohim, dan keponakannya, Fajar Firdaus. Apakah ini merupakan sebuah pola teroris?
Menurut pengamat teroris Mardigu, perekrutan di kalangan keluarga lebih aman. Dari sisi mengelola tempat persembunyian, misalnya.
"Cuma saya melihat Fajar ini berbeda dengan Ibrohim dan yang lain, karena dia sebagai saudara hanya membantu saja tapi belum lihat keterlibatannya di dalam aksi teroris. Dia hanya sampai Zuhri, hanya berhenti di situ," ujarnya kepada okezone, Rabu (14/10/2009).
Secara psikologis, lanjutnya, sebuah keluarga yang tinggal bersama sejak kecil mempunyai kebiasaan dan pola hidup yang sama. Apa yang diajarkan dan diterapkan oleh orangtua dan anggota keluarga lainnya menjadi lekat di masing-masing anggota keluarga.
"Jika dikatakan Jaelani (ayah Syaifudin & Syahrir) sebagai pencetak keluarga teroris, itu benar. Memang tidak ada niat tapi dia secara tidak sadar menciptakan pola itu," terangnya.
Dia menambahkan, sejak kecil anak-anak Jaelani diterapkan dengan konsep jihad. Mereka tinggal bersama dan terus menerus jadi pola menyebarkan sebuah paham sangat simpel.
"Jadi Noordin hadir itu hanya sebagai penyulut, sedangkan akarnya sudah ada," pungkas dia.(lsi)
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.