Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dinkes Kesulitan Tangani Kelompok Risiko Tinggi HIV/AIDS

Muhammad Roqib , Jurnalis-Rabu, 25 November 2009 |00:11 WIB
Dinkes Kesulitan Tangani Kelompok Risiko Tinggi HIV/AIDS
A
A
A

MADIUN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Madiun kesulitan menjangkau dan menangani kelompok yang berisiko tinggi terjangkit dan tertular HIV/AIDS.

Dari estimasi kasus HIV/AIDS di wilayah Kota Madiun yang diperkirakan mencapai 1.330 kasus, sampai saat ini baru ditemukan sekitar 7,7 persen kasus HIV/AIDS.

Rinciannya pada tahun 2004 ditemukan 2 kasus HIV/AIDS, pada tahun 2005 ditemukan 2 kasus, pada tahun 2006 ditemukan 17 kasus, pada tahun 2007 ditemukan 41 kasus, pada tahun 2008 ditemukan 27 kasus dan hingga September 2009 ditemukan 14 kasus. Sedangkan, secara akumulatif sejak tahun 2004-2009 penderita HIV AIDS yang meninggal sebanyak 41 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Madiun, Agung Sulistya Wardani, mengakui sulitnya menjangkau kelompok risiko tinggi HIV/AIDS ini. "Sekitar 63 persen kasus HIV AIDS ini terjadi karena penularan melalui pemakaian jarum suntik narkoba secara bergantian. Nah, terus terang, kami kesulitan untuk masuk ke kelompok ini. Padahal, kelompok ini paling berisiko terjangkit HIV/AIDS," ujarnya, Selasa (24/11/2009).

Sejak tahun 2004-2009, penderita HIV/AIDS yang tertular melalui pertukaran jarum suntik narkoba ini mencapai 65 orang. Yang lebih memprihatinkan, pemakai jarum suntik narkoba ini merupakan kalangan usia produktif yakni berumur antara 21-30 tahun. Pelajar dan mahasiswa termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap perilaku menggunakan jarum suntik narkoba ini.

"Masuk ke komunitas pemakai jarum suntik narkoba ini tidak mudah. Karena mereka khawatir ditangkap polisi dan seterusnya. Oleh karena itu, pendekatannya harus berbeda," ujarnya.

Menurut Saifullah, salah satu relawan pendamping Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) Yayasan Bambu Nusantara Madiun, mengatakan, saat ini jumlah pemakai jarum suntik narkoba yang didampinginya sekitar 500 orang. Sekitar 15-20 persen pemakai jarum suntik narkoba ini terinfeksi HIV/AIDS.

Menurut dia, diperkirakan masih banyak pecandu narkoba suntik yang belum tersentuh. Sebab, mereka cenderung tertutup dan tidak mudah membuka diri. "Padahal, tidak mungkin bisa mengurangi kasus penularan HIV/AIDS karena pertukaran jarum suntik tanpa kesadaran mereka untuk merubah perilaku. Inilah kesulitannya selama ini," ujarnya.

Saifullah mengatakan, seorang pemakai narkoba suntik yang sudah ketergantungan bisa memakai 2-3 kali jarum suntik dalam satu hari. Biasanya, mereka memakai jarum suntik narkoba itu secara bergantian.

"Jadi, kalau salah seorang pemakai terinfeksi HIV/AIDS maka yang lain akan berisiko tinggi tertular penyakit mematikan itu. Hanya gara-gara memakai jarum suntik secara bergantian itu," ujarnya.

Sementara itu kemarin, sebanyak 4.318 jarum suntik bekas pakai dimusnahkan di tempat pembakaran limbah (incinerator) Rumah Sakit Umum (RSU) Sogaten, Kota Madiun. Jarum suntik bekas pakai ini dikumpulkan oleh para relawan pendamping ODHA selama tujuh bulan terakhir.

(Hariyanto Kurniawan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement