JAKARTA - Sepanjang 23,5 kilometer dari proyek BKT ini telah melibatkan ribuan insinyur muda, ratusan alat berat dan puluhan konsultan. Tahun ini sebanyak delapan kontraktor yang melaksanakan proyek BKT ini dituntut menepati target pengerjaan fisiknya harus menembus laut. Meski demikian proyek ini belum dinyatakan tuntas seluruhnya.
Pasalnya, ada lanjutan proyek yang akan dilanjutkan yakni penyelesaian lahan kering dan penghijauan pada 2010. "Ke depan proyek ini akan memasuki tahap pencantikan lokasi," ungkap Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWS Cil Cis) Departemen PU Pitoyo Subandrio.
Barulah pada 2010 proyek ini ditargetkan memasuki tahap penyelesaian secara keseluruhan dan pengaktifan kanal tersebut sebagai penangulan banjir secara penuh. Selesainya proyek ini pun tidak menjamin wilayah Jakarta terbebaskan dari banjir. "Banjir kanal ini hanya mengurangi risiko banjir," tegas Pitoyo.
Itupun hanya terbatas pada kawasan seluas 160 kilometer persegi yang mencakup sebagian wilayah Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Timur. Karena pada prinsipnya kanal ini cuma memotong lima dari 13 aliran sungai yang ada di Jakarta yakni, sungai Cipinang, Sunter, Jati Kramat, Buaran, dan Cakung.
Kawasan yang akan terlindungi dari banjir adalah kawasan di sepanjang proyek ini, mulai dari kelurahan Pondok Bambu, Duren Sawit, Pulo Gebang, Pondok Kopi, Malaka Sari, Malaka Jaya, Ujung Menteng, Rorotan, dan Marunda. Sedangkan 270 kilometer kawasan yang ada di atas wilayah BKT dirancang akan memiliki sistem drainase yang lebih cepat mengalirkan air. Itupun dengan ditambah penormalan kembali kelima sungai tersebut.
Proyek ini juga dibuat dengan berbagai tantangan bagi kedelapan pelaksana proyek. Mulai dari memindahkan tiang SUTET milik PLN dengan simpul 500 kV yang memasok listrik untuk wilayah Jakarta Timur dan Bekasi tanpa pemadaman. Selain memindahkan tower 72 meter tersebut, BKT juga dibuat di atas jaringan pipa minyak milik Pertamina Balongan, pipa air milik PDAM, saluran pipa gas, jaringan Telkom, sampai rel kereta api dan jalan tol. "Pembangunan proyek dibawah jalan tol ini kita kerjakan tanpa menggangu penggunaan jalan tersebut," jelas Pitoyo.
Namun masalah terbesar adalah soal pembebasan lahannya yang menjadi wewenang Pememrintah Kota Jakarta Timur. Dengan anggaran dana Rp2,5 triliun, Pemkot masih menyisahkan lahan yang disengketan di pengadilan lewat jalur konsinyiasi. Dari pengamatan di lokasi beberapa bidang tampak belum tergali.
Seperti di lokasi Bumi Yamka milik Antonio Halim, di akses masuk ke RS Duren Sawit milik Ibu Dice. Sedangkan di Ujung Menteng ada dua bidang milik warga yang juga belum terbebaskan. "Kami membangun kanal ini dengan hati, kalau pemilik lahan belum diganti tidak akan kami gali tanahnya," ungkap Pitoyo.
Puluhan ribu kepala keluarga telah digusur dari lokasi tanah mereka. Sebagian mendapatkan pergantian penuh, ada yang dapat sebagian, bahkan ada yang tidak digantikan. Penggusuran ini menyebabkan masalah sosial bagi warga yang terkena gusuran, selain menyisakan kisah mistis yang dipicu banyaknya korban jiwa di megaproyek penanganan banjir Ibu Kota.
(Isfari Hikmat/Koran SI/ram)