JOMBANG - Mendiskusikan pluralisme sepertinya tidak akan pernah selesai. Isu pluralisme belakangan ini kembali menjadi sorotan setelah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur wafat.
Publik mengenal Gus Dur sebagai salah satu tokoh yang konsisten menyuarakan pluralisme, sehingga sejumlah unsur menilai kiai dari NU ini tepat mendapat julukan Bapak Pluralisme.
Terkait isu pluralisme, mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafii Maarif kembali mengkritisi fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menilai pluralimse agama itu salah adalah menyesatkan.
Dia mengatakan, apabila kemajemukan itu dianggap masalah maka Republik Indonesia akan selesai atau bubar. "Jadi kemajemukan jangan dianggap masalah," katanya di hadapan putri mendiang Gus Dur, Yenni Wahid, di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jumat (1/1/2009).
Kata dia, masih ada berapa kelompok kecil di masyarakat yang belum mengerti makna sebenarnya pluralisme. Di antara kelompok kecil itu salah satunya adalah MUI. "Sesungguhya mereka itu belum mengerti pluralisme," imbuhnya.
Menurut fatwa MUI, pluralisme adalah menganggap semua agama yang berbeda adalah sama. Dalam pandangan Syafii Maarif dinilai menyesatkan. Sebab, pluralisme dalam hal ini tidak serta merta dalam konteks agama.
Sementara itu dalam terjemahan Wikipedia Encyclopedia, pluralisme adalah suatu kerangka interaksi yang mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran-pembiasan).
(Dadan Muhammad Ramdan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.