getting time...

2 Pejabat Depsos Bersaksi untuk Bachtiar di KPK

Taufik Hidayat - Okezone
Rabu, 10 Februari 2010 11:13 wib
Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah (Foto: dok.Koran SI)
Mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah (Foto: dok.Koran SI)

JAKARTA - Penulusuran kasus dugaan korupsi pengadaan sapi impor dan mesin jahit di Departemen Sosial terus dilakuan Komisi Pemberantasan Korupsi. Kali ini, komisi antikorupsi itu menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua pejabat Depsos.  
 
Dua pejabat Depsos (sekarang Kementrian Sosial) yang diperiksa yaitu Direktur Pemberdayaan Fakir Miskin Teguh Haryono dan Sekretaris Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Depsos Purnomo Sidik.
 
Keduanya diperiksa sebagai saksi atas tersangka kasus ini yaitu mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah.
 
“Purnomo Sidik dan Teguh Haryono diperiksa sebagai saksi untuk tersangka BC, kasus impor sapi,” ujar Kabiro Humas KPK, Johan Budi melalui pesan singkat kepada wartawan, Rabu (10/2/2010).
 
Selasa 10 Februari, KPK memeriksa pimpinan proyek pengadaan sapi impor di Depsos, Amus Jaya.
 
Kasus sapi impor ini terjadi pada 2004, saat Departemen Sosial dipimpin oleh Bachtiar Chamsyah. Pada 2007, KPK gencar menertibkan rekening liar di Departemen Sosial. Rekening tersebut awalnya diduga untuk membiayai proyek pengadaan sapi, mesin jahit, dan sarung di departemen tersebut.
 
Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 2005 juga menyimpulkan adanya beberapa dugaan penyimpangan, termasuk pada proyek pengadaan sapi dan mesin jahit.
 
Untuk proyek impor sapi dilakukan melalui penunjukan rekanan secara langsung oleh Direktorat Jenderal Bantuan Jaminan Sosial, Departemen Sosial, melalui surat usulan nomor 48 D/BP-BSFM/IX/2004.
 
Alhasil, Departemen Sosial menggandeng sebuah perusahaan sebagai rekanan. Salah satu petinggi perusahaan itu diduga memiliki hubungan darah dengan tokoh nasional terkemuka. Perusahaan itu bertugas mengimpor 2.800 ekor sapi Steer Brahman Cross dari Australia.
 
Ketika proyek berjalan, perusahaan itu diduga menjual sejumlah ekor sapi. Pada akhirnya, perusahaan itu tidak mampu menyetor sekira 900 ekor sapi. Namun, kekurangan itu disembunyikan dan seolah-olah proyek berjalan sesuai rencana.

(lsi)