Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kata Tersisa dari Pansus Angket Bank Century

Kata Tersisa dari Pansus Angket Bank Century
A
A
A

Setiap kali teman saya di Pansus Angket Bank Century mengutarakan bahwa dua kali dua belum tentu empat, hal itu membuat hati saya senantiasa galau. Apa iya, kalau di dalam dunia politik itu dua kali dua belum tentu empat?

Dunia politik yang mana? Rasanya sebuah pendapat yang membingungkan. Apalagi kalau “politisi” itu secara berulang kemudian menambahkan bahwa dua kali dua itu bisa enam, delapan, sembilan, sepuluh, dan seterusnya. Benar-benar menyesatkan. Anda bisa bayangkan bila percakapan itu didengar anak-anak. Itulah akibat yang disalahartikan atau disalahtafsirkan. Bisa disengaja bisa juga karena kekeliruan menafsirkan. Sama saja dengan pengertian politik yang selalu diselewengkan. Dalam dunia politik bahwa sesuatu itu dapat diputarbalikkan.

Yang “a” bisa jadi “b”, dan yang “b” bisa jadi “a”. Politik itu seolah pekerjaan tipu-menipu dan politisi itu sah saja menipu. Apa memang begitu? Setahu saya, ada benar dan salahnya. Dua kali dua, ya empat. Tapi nilai empat memang tidak hanya didapat dari dua kali dua. Atau dua ditambah dua.Tapi juga bisa tiga ditambah satu. Atau tiga setengah ditambah setengah. Atau delapan dibagi dua. Atau akar 16 dan seterusnya.Yang bisa dibenarkan, untuk memperoleh empat, tidak selalu dengan dua kali dua.

Positif

Kalau kita buka berbagai kamus, maka kata politik itu senantiasa diartikan positif. Atau diberi arti kata yang positif. Lihat misalnya Allen (1984) yang menjelaskan bahwa arti politic (of action) adalah judicious (bijaksana) atau expedient (jalan yang berguna sekali). Adapun bila dikaitkan dengan orangnya atau diberi arti prudent (bijaksana, hati-hati) atau sagacious (bijaksana, cerdas, cerdik).

Untuk kata politics, diartikan sebagai science and art of government alias ilmu dan seni pemerintahan. Sementara di kamus yang banyak kita gunakan, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi III, 2005), dijelaskan bahwa politik itu adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan; segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb); cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah). Arti yang kurang lebih sama yang ditulis di banyak kamus lain. Bukankah begitu mulianya arti kata politik itu? Memang ada juga kamus yang memasukkan kata “tipu muslihat” atau “kelicikan akal (daya upaya)” bagi arti kata politik di samping pengertian di atas.

Misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun WJS Poerwadarminta (Cetakan X, 1987). Tapi kamus ini sesungguhnya tidak banyak digunakan lagi atau sudah amat jarang digunakan. Yang paling umum kita temukan di dalam berbagai kamus yang beredar adalah politik dalam arti yang positif tadi. Sementara itu, tentang pengertian politik, baik yang klasik maupun postmodern, juga menguraikan pemahaman politik secara positif.

Bahwa politik itu adalah mengelola kekuasaan sedemikian rupa sehingga dapat menggerakkan prakarsa lembaga dan individu guna mengatasi tiga masalah abadi kehidupan bersama: (1) Meningkatkan ragam mata pencaharian dalam masyarakat. (2) Menggalang sinergi antara kepentingan yang berbeda dan bertentangan dalam masyarakat itu. (3) mengolah nilai-nilai yang beragam dalam masyarakat jadi tata tertib umum yang menjamin kelangsungan hidup bersama.

Perilaku

Memang harus diakui, banyak sekali perilaku politisi alias orang yang berkecimpung dalam bidang politik yang kurang terpuji, sehingga acap kali itulah sesungguhnya praktik politik tersebut. Bukankah amat lumrah kita melihat para politikus yang berbicara “a”, tapi dalam praktiknya melakukan tindakan “b”. Atau para politikus yang berbusa-busa menyampaikan janji-janji manis kepada masa kampanye, akan tetapi mengingkarinya selepas masa kampanye atau ketika yang bersangkutan sudah terpilih.

Dalam pidatonya dia mengatakan akan meningkatkan kemakmuran rakyat, tapi dalam kenyataannya yang ditingkatkannya adalah kemakmuran dirinya sendiri, sementara rakyat tetap saja hidup dalam kemiskinan. Terkadang kemakmuran yang didapatkan itu pun dipertontonkannya di tengah-tengah rakyat yang masih hidup sederhana. Belum lagi betapa banyaknya perilaku politisi yang kurang terpuji. Para politikus yang tertangkap tangan menerima suap, melakukan sogok-menyogok dan tindakan tidak terpuji lainnya. Akibatnya rakyat pun memberi cap bahwa itulah sesungguhnya perilaku politisi.

Bahkan lebih jauh mengartikan seolah itulah dunia politik itu. Bagi perilaku seperti inilah mungkin berlaku pemahaman dua kali dua belum tentu empat. Artinya, empat itu bisa dimanipulasi menjadi enam, delapan, dan sebagainya. Terlihat amat lumrah orang mencampur adukkan dunia politik dengan perilaku politik. Banyaknya politisi busuk menyebabkan dunia politik itu adalah busuk, kotor, tipu menipu, dan penuh dengan kebohongan. Atau seolah semuanya ini dapat diterima dalam dunia politik. Padahal semestinya dunia politik itu harus dibuat bersih dan untuk itu diperlukan para politikus yang bersih dan bermartabat.

Berkembang

Sebagaimana yang diuraikan di atas, memang politik itu sesungguhnya memberi pengertian yang amat positif dan mulia. Bahkan para politikus seharusnya membawa kehidupan politik ke dalam kehidupan bernegara secara terpuji.

Sebagaimana diketahui, negara itu terdiri atas beragam kelompok dan golongan, baik ditinjau dari sisi agama, suku, golongan, ras, atau bahkan berbagai profesi atau cabang ilmu pengetahuan. Justru politiklah yang akan mempertemukan berbagai pendapat dan keinginan dari rakyat yang beragam itu ke arah yang sama-sama dicita-citakan. Di dalam negara itu, semua anggota masyarakat harus hidup bahagia, aman, makmur dan sejahtera. Guna mencapai tujuan itulah kita mempertemukan berbagai pikiran dan kehendak itu ke arah yang sama. Bagi tugas semacam inilah letak pentingnya membangun kehidupan politik dimaksud dan di sinilah pentingnya kehadiran para politikus.

Bukankah ini tugas mulia? Bagaimana semua disiplin keilmuan itu dapat berkembang, serta menempati tempatnya masing-masing dalam kehidupan masyarakat. Termasuk di dalamnya membangun ilmu pasti, yang antara lain mengajarkan dua kali dua adalah empat. Artinya, matematika ya tetap matematika. Matematika atau ilmu-ilmu eksakta pun tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat kita. Termasuk bersama ilmu politik. Demikian juga ilmu agama. Juga ilmu-ilmu sosial lainnya. Tidak berarti matematika menjadi kehilangan makna hanya karena dunia politik. Atau karena hidup di Senayan dapat mengubahnya menjadi tidak berarti.

Justru matematika atau aljabar harus semakin subur dalam kehidupan politik yang semakin baik. Bahkan dunia politik juga harus berkembang dengan baik dalam kehidupan masyarakat. Karena sesungguhnya politik itu bukan ilmu tipu menipu, tapi bagaimana menata negara dengan baik. Bukankah ilmu hitung-hitungan juga yang kita gunakan tatkala pengambilan keputusan hasil Pansus Angket Bank Century dengan cara voting pada sidang paripurna DPR, 3 Maret 2009 lalu. Memang kita tidak bisa menghitung dengan pasti pikiran yang berkembang di fraksi Partai Persatuan Pembangunan sebelum dilakukan pengambilan keputusan.

Akan tetapi setelah melalui pengambilan keputusan itu, kita mengetahui bahwa fraksi ini ternyata memilih opsi C. Lalu, setelah menghitung dengan baik maka pemilih opsi C ini menjadi 325 orang. Kepada teman-teman saya mantan anggota Pansus Angket Bank Century dan semua politikus Senayan sebagai anggota DPR/ MPR, khususnya yang selalu mengatakan dua kali dua belum tentu empat itu hendaknya perlu menyadari hal ini. Ucapan Anda didengar banyak pemerhati, termasuk anak-anak sekolah.

Karena itu perlu kehati-hatian agar masyarakat tidak ikut-ikutan salah pengertian, hanya karena pemahaman kita belum mampu mempertemukan semua ini!(*)

Baharuddin Aritonang
Mantan Anggota DPR dan BPK, Pengamat Sosial

(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement