getting time...

Tembak Mati Dulmatin Malah Persulit Penelusuran

Lusi Catur Mahgriefie - Okezone
Kamis, 11 Maret 2010 09:40 wib
Petugas memeriksa pelaku teroris yang telah mati tertembak dalam penggerebekan di Gang Asem, Pamulang (Foto: Azis Indra/Koran SI)
Petugas memeriksa pelaku teroris yang telah mati tertembak dalam penggerebekan di Gang Asem, Pamulang (Foto: Azis Indra/Koran SI)

JAKARTA - Tewasnya teroris Dulmatin saat penggerebekan oleh Densus 88 Antiteror di Pamulang, Selasa 9 Maret lalu, dianggap mempersulit penelusuran jaringan teroris.  
Demikian dikatakan pengamat teroris dan hipnoterapis, Mardigu, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Kamis (11/3/2010).
 
“Saya juga seorang psikolog, saya memerlukan data lebih banyak tapi dengan tewasnya Dulmatin menimbulkan kesulitan,” ujar Mardigu.
 
Serupa dengan Ketua Komnas HAM Nurcholish, dia juga menyayangkan dan lagi-lagi mempertanyakan mengapa setiap penangkapan tersangka teroris selalu berujung pada penembakan mati.
 
“Sampai saat ini saya belum temukan jawaban, harusnya polisi sendiri yang menemukan. Padahal Dulmatin masih sangat vital dibanding Noordin M Top. Harusnya bisa hidup, jadi kita bisa terlusuri strategi mereka selanjutnya,” tandasnya.
 
Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM Nurcholis menyatakan, pihaknya mengaku heran mengapa setiap menggerebek sarang teroris, polisi harus menembak mati sasarannya. Seperti yang terjadi dengan penggerebekan terhadap Dr Azhari, Noordin M Top, Saifuddin Zuhri, dan terakhir Dulmatin.
 
“Kalau kasus ini harus dikembangkan, seharusnya polisi dapat menangkap mereka dalam keadaan hidup. Tapi mungkin kondisi yang memaksa seperti itu,” ujar Nurcholish kepada okezone, Rabu 10 Maret.

(lsi)

Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.