Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Haruskah Ditembak Mati?

Ahmad Dani , Jurnalis-Jum'at, 12 Maret 2010 |14:36 WIB
Haruskah Ditembak Mati?
A
A
A

Aksi Detasemen Khusus Antiteror 88 milik Mabes Polri kembali mempertontonkan kebolehannya ketika melumpuhkan Dulmatin, salah satu buron teroris tingkat Asia Tenggara. Namun, lagi-lagi Densus harus menembak mati Dulmatin yang ketika itu hanya seorang diri. Mengapa?

Polisi berdalih tembak mati di Ruko Multiplus di Pamulang Barat, Tangerang Selatan, Banten itu terjadi karena Dulmatin melakukan perlawanan. Memang, sempat ada satu peluru yang katanya dimuntahkan Dulmatin ketika penggerebekan. Tapi, pasukan Densus yang melawan Dulmatin seorang diri tetap meletuskan timah panasnya kepada Dulmatin hingga tewas.

Sontak, aksi inipun mendapat reaksi dari sejumlah pihak. Salah satunya, Komisioner Komnas HAM, Nurcholish. Dia mempertanyakan aksi tembak mati bagi para pelaku teror, terutama para tokoh teratas dari jaringan teroris di Tanah Air.

Nurcholis menyatakan, pihaknya mengaku heran mengapa setiap menggerebek sarang teroris, polisi harus menembak mati sasarannya. Seperti yang terjadi dengan penggebekan Dr Azhari, Noordin M Top, Saifuddin Zuhri, dan terkahir Dulmatin.

“Kalau kasus ini harus dikembangkan, seharusnya polisi dapat menangkap mereka dalam keadaan hidup. Tapi mungkin kondisi yang memaksa seperti itu,” ujar Nurcholish ketika itu.

Ahli hipnoterapis Mardigu Wowiek Prasantyo mengatakan, keputusan Densus 88 untuk menembak mati tersangka teroris sudah tepat. Sebab, biaya pemeliharaan serta pembinaan para teroris itu sangat mahal.

Memang, aktivitas teroris membahayakan masyarakat. Tindakan teror juga membuat sejumlah investor malas menaruh uangnya di Tanah Air, sehingga juga berdampak terhadap keuangan negara. Tapi, jika dilihat secara jernih, dan jika polisi benar ingin mengungkap pelaku teror, kenapa tidak ada niatan untuk menangkap mereka hidup-hidup untuk diketahui apa dan siapa di belakang mereka.

Tentu cara seperti itu akan mendapatkan keuntungan yang besar bagi polisi dan juga pemerintah, karena bisa jadi bisa mengetahui dalang aksi teror selama ini, termasuk darimana aliran dana operasional kelompok teror itu mengalir. Cara menangkap hidup-hidup juga akan mengubah stigma sebagian masyarakat yang menganggap upaya pemberantasan terorisme adalah by design. Design bagi kelompok yang mempunyai kepentingan tertentu.

Semoga teroris bisa diberantas. Tapi, juga tak merugikan dan menguntungkan pihak tertentu.

(Ahmad Dani)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement