JAKARTA- Lambannya informasi atas nasib 12 WNI yang ikut diserang saat melakukan misi kemanusiaan ke Palestina, kemarin, salah satunya karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Untuk mendapatkan kabar terbaru, Pemerintah Indonesia hanya mengandalkan pasokan informasi dari perwakilannya yang berada di negara-negara tetangga Israel seperti, Lebanon, Jordania, dan Syria.
“Untuk hubungan langsung dengan para korban susah, karena ponselnya mungkin disita pihak Israel dan pemerintah kita tidak memiliki perwakilan di sana,” ungkap Ketua Komite Nasional Rakyat Palestina dr Muqoddam kepada okezone di Jakarta, Selasa (1/6/2010).
Moqoddam menjelaskan, sembilan armada kapal pembawa bantuan kemanusiaan telah digiring menuju Kota Askip yang berada di dekat Tel Aviv. Di sana, para relawan kemanusiaan diinterogasi dan selanjutnya diproses untuk dideportasi. “Tapi kita tidak tahu akan berapa lama prosesnya,” ungkapnya.
Adapun mengenai kabar 12 WNI, dia mengaku belum mendapat kabar apa pun. Belum ada sumber primer yang dapat menjelaskan kondisi mereka. “Ada yang luka atau meninggal belum ada berita primer,” ujarnya.
Seperti diketahui, 12 WNI ikut berada di atas kapal Mavi Marmara yang diserang tentara Israel, kemarin. Berikut identitas para relawan dan jurnalis asal Indonesia:
Dari Sahabat Al Aqsha bekerja sama dengan Hidayatullah:
1. Dzikrullah Ramudya
2. Surya Fahrizal
3. Santi Soekanto
Rombongan LSM Mer-C:
1. Nur Fitri Moeslim Taher (Ketua Tim)
2. dr Arief Rachman
3. Abdillah Onim (Logistik dan Penerjemah)
4. Nur Ikhwan Abadi (Insinyur)
5. Muhammad Yasin (Jurnalis TV One)
Relawan Komite Solidaritas untuk Rakyat Palestina (Kispa)
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.