Terbelit Masalah Ekonomi, Sang Guru Pilih Gantung Diri

Minggu, 5 September 2010 22:19 wib
ilustrasi
ilustrasi

BOJONEGORO – Entah apa yang dipikirkan Sudarti (44), seorang guru PNS di SDN Kecamatan Kedewan Bojonegoro yang nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Diduga, Sudarti stres dengan kebutuhan ekonomi yang besar menjelang Lebaran ini.

Kronologisnya, pada Minggu dini hari, suami korban Sumarlan hendak makan sahur. Biasanya, Sudarti telah menyiapkan makan sahur untuk keluarga. Namun, hingga pukul 03.00 WIB, Sudarti belum juga keluar dari kamar.

Merasa curiga, Sumarlan mencoba membuka pintu kamar. Kecurigaan Sumarlan bertambah saat pintu kamar dalam kondisi terkunci, padahal sehari-harinya pintu kamar tersebut tidak pernah dikunci. Sumarlan berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar dan betapa terkejutnya dia saat menemukan istrinya dalam kondisi tergantung dengan selendang warna kuning di blandar kamar.

Sumarlan langsung berteriak minta tolong dan tak lama warga pun berdatangan. Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, warga langsung melaporkan kejadian ini ke Polsek setempat.


"Hasilnya dia memang bunuh diri," ujar Kapolsek Kedewan Iptu Syamsuri di lokasi, Minggu (5/9/2010).

Dari keterangan sejumlah saksi di lapangan, Sudarti terlihat murung beberapa hari belakangan. Diduga, dia memikirkan kebutuhan ekonomi yang terus melambung menjelang hari raya idul fitri. Apalagi, Sudarti memiliki tiga anak kandung dan dua anak asuh yang menjadi tanggungannya.

"Mungkin karena persoalan ekonomi dan korban memiliki orangtua yang sakit menahun," imbuh Kapolsek.

Sehari sebelum peristiwa ini salah seorang warga Bojonegoro juga ditemukan bunuh diri, yakni di Desa Ngaseh, Kecamatan Dander. Islamet (40) memilih gantung diri di sebuah pohon mangga di dekat rumahnya. Dia diduga stres karena terbelit persoalan ekonomi menjelang Lebaran. Selain itu, dia juga merasa bersalah karena tidak bisa membiayai resepsi pernikahan anaknya.(bul)
(Nanang Fahrudin/Koran SI/hri)