tragedi sukhoi

Sultan Jailolo Dilengserkan dari Singgasana

Rival Fahmi - Okezone
Kamis, 25 November 2010 01:00 wib
Ilustrasi. Ritual pencucian mahkota di Kerajaan Gowa (Foto: Koran SI)
Ilustrasi. Ritual pencucian mahkota di Kerajaan Gowa (Foto: Koran SI)

TERNATE- Pihak Kesultanan Ternate akhirnya mencopot mahkota yang dipasang di kepala Sultan Jailolo Abdullah Harijanto Sjah karena dinilai sudah tidak mengikuti garis Adat se Atorang.

Abdullah pun sudah tidak lagi berhak menyandang status Sultan sejak akhir pekan lalu. Pencopotan ini didasarkan pada surat mandat Kesultanan Ternate yang dikeluarkan Sri Sultan Mudaffar Sjah pada Sabtu (20/11/2010) lalu.

Sebagai penggantinya ditunjuk Kapita Lao (sebutan Perdana Menteri) Kesultanan Jailolo, Ilham Dano Tokan sebagai pelaksana tugas-tugas kesultanan.

Tidak disebutkan pasti pemecatan Abdullah ini, namun dari bocoran informasi yang diterima, Abdullah disebut-sebut banyak melakukan penyelewengan dan tidak mengikuti Idin (fatwa) kesultanan Ternate.

Abdullah sendiri baru dikukuhkan sebagai Kolano Kesultanan Jailolo pada 2003 silam setelah sekian lama Jasirah Barat Halmahera itu tidak memiliki pemimpin semenjak Sultan Banau ditangkap lalu digantung Belanda pada masa perjuangan kemerdekaan lalu.

Pengukuhan Abdullah sendiri berlangsung di Kedaton Sultan Ternate oleh Mudaffar Sjah dan sempat memancing kontraversi seputar garis keturunannya saat itu.
(ful)

  • Yusuf Hasani » 0 Tanggapan
    Benahi Sistin Internal Kraton: Tabea jo sengon moi-moi, Ijinkan saya urun rembug seputar, apa yang terjadi di Kesultanan Jailolo. Sejak awal memang, saya dan sejunmah orang kurang sependapat kalau Sultan masuk ranah politik praktis, karena faktanya rawan konflik kepentingan. Apa yang terjadi saat ini , tak lepas dari kepentingan politik pilkada.Kemudian sistim di internal kraton yang tidak berjalan optimal. Tau Raha yang berfungsi mengangkat dan memberhentikan seorang Sultan,tapai pada kasus ini tampaknya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi ini menggambarkan sistim tidak berjalan. Bahwa benar Sultan Ternate berperan full dalam memfasilitasi terbentuk kembali Kesultanan Jailolo beberapa tahun lalu.Kita patut berterima kasih kepada beliau, sebagai fasilitator. Setelah di nobatkan , berarti Kesultanan Jailolo menjadi lembaga yang Otonom. Singkat cerita semuanya kita kembalikan kepada fofato (fungsionaris) Kesultanan Jailolo, bagaimana menyelesaikan persoalan internal, tentu merujuk pada fungsi masing-masing fufato.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Fadly Soleman Tarafannur » 0 Tanggapan
    Maaf meralat pernyataan Sdri. Titi Tatuhey. Semenjak Sultan Ternate Deyal hinga Sultan Baabullah, kesultanan Jailolo memiliki sultan yang berdaulat yakni Kolano Katarabumi dan Kolano Facruz Abidin Syah. Sedangkan Sultan Jailolo Terakhir yang memerintah adalah Kaitjil Alam Syah, namun pada tahun 1662 menikah dengan Boki Mihir Gammalammo (putri Sultan Mandarsjah) sehingga kesultanan Jailolo menjadi kesultanan vazal Ternate, Kaitjil Alam Syah kemudian diangkat sebagai Jougugu (Perdana Menteri) kesultanan Ternate hingga beliau wafat thn 1684. Semenjak itu kesultanan Jailolo tidak memiliki seorang sultan hingga pengangkatan Sultan m******d Arif Bila oleh Sultan Tidore Nuku tahun 1797.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • titi tatuhey » 0 Tanggapan
    Sultan Jailolo sudah menghilang jauh sebelum Dinasti Babullah, karena pada Jaman Sulatan Babullah, Kesultanan Ternate sudah membagi Halmera menjadi beberapa distrik yang dipimpin oleh sangaji dari ternate dan Kesultanan Tidore juga masuk dalam sengketa wilayah itu.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • ryan » 0 Tanggapan
    Banau itu bukan Sultan... Kesultanan Jailolo sudah menghilangkan dirinya sendiri sejak jaman Sultan Bab Ullah
    Beri Tanggapan Laporkan
  • ryan » 1 Tanggapan
    Banau itu bukan Sultan... Kesultanan Jailolo sudah menghilangkan dirinya sendiri sejak jaman Sultan Bab Ullah
    • Yusuf Hasani
      Benahi Sistim Interna Kraton: Tabea jo sengon moi-moi, Ijinkan saya urun rembug seputar, apa yang terjadi di Kesultanan Jailolo. Sejak awal memang, saya dan sejunmah orang kurang sependapat kalau Sultan masuk ranah politik praktis, karena faktanya rawan konflik kepentingan. Apa yang terjadi saat ini , tak lepas dari kepentingan politik pilkada.Kemudian sistim di internal kraton yang tidak berjalan optimal. Tau Raha yang berfungsi mengangkat dan memberhentikan seorang Sultan,tapai pada kasus ini tampaknya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi ini menggambarkan sistim tidak berjalan. Bahwa benar Sultan Ternate berperan full dalam memfasilitasi terbentuk kembali Kesultanan Jailolo beberapa tahun lalu.Kita patut berterima kasih kepada beliau, sebagai fasilitator. Setelah di nobatkan , berarti Kesultanan Jailolo menjadi lembaga yang Otonom. Singkat cerita semuanya kita kembalikan kepada fofato (fungsionaris) Kesultanan Jailolo, bagaimana menyelesaikan persoalan internal, tentu merujuk pada fungsi masing-masing fufato
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.