2020 Wilayah Kapuk Hilang dari Peta Jakarta

Salah satu rumah permanen milik warga Kapuk yang terendam (Foto:Fahmi/okezone)

 2020 Wilayah Kapuk Hilang dari Peta Jakarta
JAKARTA - Wilayah Jakarta tenggelam bukan lagi ancaman yang isapan jempol. Tapi sudah menjadi kenyataan yang harus diwaspadai. Terbukti, wilayah pesisir utara Jakarta mengalami penurunan muka tanah yang signifikan, bahkan bisa dibilang tertingi di dunia yakni per tahun rata-rata berkisar 0,87 cm.

Hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukan adanya kecenderungan kenaikkan muka air laut. Pada 1925, kondisi muka laut di Teluk Jakarta tercatat 51,19 cm. Pada 1950 atau 25 tahun berikutnya, muka laut bertambah 14,37 cm. Pada 25 tahun selanjutnya (1975), terjadi kenaikan muka laut 14,38 cm.

Jumlah kenaikan muka laut Teluk Jakarta setiap 25 tahun berada di kisaran 14,37 cm, atau rata-rata kenaikan per tahun 8 mm. Berdasarkan asumsi tersebut, pada 2050 diperkirakan muka laut di Teluk Jakarta akan mencapai 1,23 meter.

Pada master plan tata ruang Jakarta 1965-1985 masih terdapat 37,2 % atau 241,8 km2 ruang terbuka hijau (RTH) dari luas Jakarta. Tapi dalam 2000-2010 luas tersebut berkurang jauh menjadi 13,94 % atau 96.6 km2 dari luas Jakarta 661.52 km2.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memperkirakan DKI Jakarta akan terendam air pada tahun 2030. Banyak faktor yang menjadi penyebab di antaranya banjir pasang air laut (rob) akibat penurunan permukaan tanah serta banjir akibat hujan yang terus meluas di seluruh wilayah Ibu Kota.

Kampung Apung, di Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, menjadi bukti penurunan tanah di wilayah tersebut. Masih ingat dengan heboh terputusnya akses ke Bandara Soekarno Hatta akibat genangan air beberapa waktu lalu, adalah menunjukan wilayah Jakarta secara perlahan tenggelam.

Walhi juga memprediksi Kampung Apung dan wilayah Cengkareng sekitarnya akan hilang di peta Jakarta pada 2020. “Daerah situ tanah sama rumah tergenang permanen, akibat curah air hujan dan air laut yang tidak dikelola dengan baik,” ujar Direktur Eksekituf Walhi Ubaidilah kepada okezone, baru-baru ini.

Walhi, kata dia, sangat prihatin karena sudah berlangsung cukup lama Kampung Apung terendam. ”Solusinya pemerintah harus menyediakan lahan baru untuk relokasi penduduk. Ini sebetulnya sudah dijanjikan sejak lima tahun terakhir, namun tak pernah terpenuhi,” katanya.

Akibat banjir yang tidak kunjung surut, dia mengatakan kejadiannya tentu berdampak sosial. ”Kalau lahan yang ditempati ilegal, tidak ada surat-menyurat tentu harus direlokasi. Tapi kalau legal pemerintah harus merevitaliasi dan melakukan perbaikan. Dengan membuat resapan air, perbaikan saluran, dan aliran sungai,” ujarnya.

Kata Ubaidilah, penurunan muka tanah di Kampung Apung disebabkan oleh berbagai macam dampak pembangunan di sana. ”Saya pikir penurunan tanah bukan hanya karena industri tapi karena kondisi tanah yang labil dan eksploitasi air tanah secara berlebih-lebihan,” ujarnya.

Menurutnya, akibat eksploitasi tersebut berdampak tanah di sekitarnya terus mengalami penurunan dan lambat laun bisa tenggelam. “Sisi pantai secara teknologi bisa dibuat tanggul atau secara tradisional ditanami bakau,” paparnya. “Kalau begini terus tidak ada jalan keluar, daerah Kapuk, Cengkareng, dan Kamal bisa tenggelam sebelum tahun 2030. Bahkan bisa jadi tahun 2020,” imbuhnya.

Menurut Ketua RT 10 RW 1 Kelurahan Kapuk Rudi Suhandi, tengelamannya pemukiman di Kapuk disebabkan maraknya pembangunan pusat perbelanjaan atau mal yang banyak terdapat di wilayah Jakarta Utara dan pendirian pemukiman mewah. “Imbas pembangunan menjadikan wilayah saya tergenang banjir,“ terang dia.

Rudi menceritakan, dulu wilayah sekitar Kampung Apung adalah dataran tinggi, namun akibat pengurukan menjadikan permukaan tanah turun dan amblas. "Di sekitar sini dulu ada rawa juga dataran tinggi, namun dengan banyaknya pengurukan untuk membuat mal, pemukiman mewah, pabrik, dan gudang sehingga mengurangi daerah resapan air,” bebernya. Dia juga menambahkan, selain rawa wilayah Kampung Apung juga terdapat tambak. Namun saat ini sudah dijadikan pemukiman.

Dari pantauan okezone, puluhan rumah di Kampung Apung hancur akibat terendam air sejak belasan tahun lalu. Yang tersisa hanya bagian atapnya. Bahkan kantor pemakaman umum Kapuk sudah hilang ditelan air. Untuk bertahan hidup, warga setempat mendirikan rumah apung. Rumah-rumah permanen lainnya dinaikan ke lantai dua untuk menghindari genangan air, sementara lantai dasar sudah tertutup air yang tak pernah surut.      (ram)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Putri Jokowi Terlambat Tes CPNS