JAKARTA - Kurang harmonisnya hubungan antara Densus 88 Antiteror dengan unit Intelkam Mabes Polri disinyalir turut berkontribusi atas maraknya aksi teror bom serta gangguan Kamtibmas lainnya di Tanah Air.
“Intelkam sering kali tidak dilibatkan dalam penanganan kasus-kasus terorisme. Bahkan Densus 88 cenderung mambangun jaringan intelijen sendiri. Sehingga terjadi arogansi sektoral di Polri dalam menangani kasus-kasus terorisme,” ungkap Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada okezone di Jakarta, Kamis (21/4/2011).
Alhasil dalam banyak hal seolah-olah polisi kecolongan. Penangkapan para tersangka teroris pun acapkali harus diwarnai baku tembak dan pertumpahan darah. “Selama ini IPW menilai pola koordinasi Intelkam dengan Densus 88 sangat buruk,” imbuhnya.
Dalam kaitan ini, IPW berharap Kapolri Jenderal Timur Pradopo mencermati perkembangan yang tidak sehat ini dan segera mencari solusinya agar soliditas yang kuat terbangun di Polri dalam melindungi masyarakat, terutama terkait ancaman aksi-aksi terorisme.
“Kinerja yang profesional dalam membongkar kasus terorisme inilah yang diharapkan publik muncul dari Polri. Dan ini hanya bisa tercapai jika egoisme sektoral dan arogansi sektoral dapat dihapuskan serta dibangun soliditas yang kokoh di Polri,” tandasnya.
(Muhammad Saifullah )