JAKARTA - Pakar Hukum Laut Internasional, Hasjim Djalal mengibaratkan persoalan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia bagai hewan landak.
"Seperti dua burung landak di tengah malam dingin, terlalu jauh kedinginan kesepian, kalau terlalu dekat dia tusuk menusuk," ujar Hasjim dalam diskusi Perspektif Indonesia di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (21/10/2011).
Selain itu, lanjutnya, persoalan perbatasan juga bergantung pada sikap negara tetangga. "Pagar yang baik akan membuat tetangganya jadi baik. Begitu juga sebaliknya, kalau tidak jelas, akan jadi tetangga yang tidak baik dan bisa sebaliknya akan saling cakar-cakaran," tuturnya.
Oleh karena itu, lanjutnya penetapan perbatasan dan pengelolaan wilayah perbatasan harus dilakukan sejelas mungkin. "Makanya, perlu pengelolaan dan penetapan perbatasan yang sejelas mungkin. Perlu perundingan yang jelas," katanya.
Hasjim menambahkan, kemampuan menjaga diri juga diperlukan dalam menangani persoalan pencaplokan perbatasan antar-kedua negara. "Kita kalau ingin damai harus siap kalau dipukulin, siap kalau dilecehkan. Artinya pembinaan kemampuan untuk menjaga diri tidak kemampuan agresivitas," tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, dalam pengelolaan perbatasan wilayah harus sangat hati-hati karena persoalan perbatasan tidak semudah yang dibayangkan. Karena berada dalam hukum internasional, batas bisa tumbuh dan hilang secara alamiah.
(ful)